OpenStreetMap logo OpenStreetMap

Users' Diaries

Recent diary entries

How dare you cast aspersions on and try to obstruct me and my work on OpenStreetMap in Victoria, BC. I thought OpenStreetMap was supposed to be collaborative, but instead you proceed to misrepresent my statements and get openly hostile and destructive toward my efforts. Now I must demand that you cease all further interference with and circumvention of what I am trying to do. I will not have it.

Posted by b-unicycling on 24 May 2026 in English. Last updated on 27 May 2026.

For quite a while now, I have been thinking about making a tutorial on mapping lifting stones. In case you are not familiar - this is a tradition throughout parts of Europe (VERY strong in the Basque country), but also in Asia and North America. Local men (and less often women, but that did happen) proved their strength by lifting a dedicated stone in the local area. You’ll find more information on Wikipedia and examples on Wikimedia. The tradition might go back thousands of years.

Since and because of the lockdown during Covid, Irish man David Keohan (“indiana stones” on Instagram) has been reviving the tradition in Ireland which very much entailed finding these stones, some of which had not been lifted in 200 years! There is a website with a map (Mapbox, so based on OpenStreetMap), but I followed up on some of the locations, and they’re not all correct.

Lifting Stones. Glen Roy Lifting Stones. Glen Roy by david glass, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons

See full entry

Posted by pussreboots on 24 May 2026 in English.

Earlier this month my husband and I drove by or through a number of small communities in Northern California as we were headed to and from Canada. One of them was Grenada. I was curious to see if it was mapped on OSM. It wasn’t, save for the streets (including some erroneously added ones).

So I’ve spent my mapping time this month on Grenada. And now the buildings and addresses are there.

Location: Grenada, Siskiyou County, California, 96038, United States

Jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Beberapa perempuan telah berdiri di sebuah warung gelap di simpang Jalan Haur Pancuh, Dipatiukur. Mereka menantikan bus Metro Jabar Trans Koridor 4 menuju arah Leuwipanjang untuk berangkat bekerja. Pada waktu yang hampir bersamaan, belasan mahasiswa, sebagian besar perempuan, menunggu bus Metro Jabar Trans Koridor 5 di Perhentian SPBU Moh. Toha untuk berangkat kuliah di Jatinangor. Meskipun menjadi perhentian bus favorit bagi penumpang Metro Jabar Trans, tempat tersebut hanya beralaskan tanah, tanpa penerangan, dan tanpa kamera pengawas.

Kondisi seperti ini sudah lama terjadi pada prasarana transportasi umum di Kota Bandung. Tindakan kriminal dan pelecehan seksual terus membayangi calon penumpang transportasi umum yang sedang menunggu akibat minimnya kualitas prasarana. Bukan hanya prasarana untuk Metro Jabar Trans, melainkan semua moda transportasi darat di Kota Bandung (Trans Metro Bandung, Damri, angkot, bus AKAP, dan bus AKDP).

Saya telah aktif memetakan fasilitas pemberhentian bus di Kota Bandung sejak dua tahun terakhir. Bersama dengan organisasi yang saya ikuti, Transport for Bandung, kami aktif memperbaharui data titik-titik perhentian di Kota Bandung untuk edukasi ke masyarakat dan advokasi ke pemangku kepentingan. Diary ini merupakan catatan yang ingin saya sampaikan dalam proyek kecil-kecilan ini.

Keberadaan bangunan halte

Kendati istilah “halte” dapat merujuk pada tempat penumpang menunggu dan menaiki transportasi umum, tidak peduli bentuk dan kelengkapan fasilitasnya, saya lebih nyaman menyebut istilah tersebut untuk tempat yang memiliki bangunan/shelter. Bukan tanpa alasan, operator dan regulator telah menggunakan istilah “halte” untuk tempat-tempat tanpa fasilitas yang memadai, hanya supaya kewajiban mereka terpenuhi.

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Hari ini aku sempat merenung lama di depan laptop, menatap sebuah peta digital yang sedang aku kerjakan. Setelah aku menatap lama, tiba - tiba aku terpikir akan satu hal ? kira - kira seberapa banyak ya? bumi menciptakan ruang yang benar - benar ramah dan terbuka untuk perempuan. Aku tahu bumi ini sangat lah luas akan tetapi seringkali ruang gerak perempuan dalam pendidikan dan karier masih diberi garis pembatas yang tak kasat mata. Aku sering mendengarkan anggapan kalau dunia pemetaan bahkan kerja lapangan itu ranahnya hanya ke laki - laki. Tapi menurutku, dunia geospasial bukan hanya lelaki berperan namun, butuh lebih banyak sentuhan perempuan. Kita punya hak dan kemampuan yang sama untuk memimpin di bidang ini. Aku suka bertanya - tanya dengan diriku “ bisa gak ya aku melangkah sejauh yang ku impikan? “ Memang, akses pendidikan untuk perempuan dengan spasial ini sudah jauh lebih terbuka. Sebagai mahasiswi yang duduk dibangku kuliah dengan jembatan menuju karier yang ku impikan, Akan ku peluk karier impian ku yang ku perjuangkan. Membuktikan kalau perempuan juga punya tempat yang sama besarnya untuk karier nya di bidang ini khususnya tempat dimana sains bertemu yang di dalam nya aku sebagai perempuan, Berani bermimpi setinggi langit tanpa takut terhalang gender. Bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek yang di petakan namun membawa kepekaan dan dedikasi di setiap koordinat yang kita tarik. Sekalipun bersuara, aku menyuarakan “ Mimpi Bukanlah Ajang Prestasi Tapi Melainkan Usaha Yang Kita Coba Dengan Penuh Harapan “.

Location: Sempaja Selatan, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Peta, Ruang Publik, dan Kepedulian terhadap Rasa Aman Perempuan

Saya sudah lama tidak kembali ke Longkali. Tapi anehnya, tempat itu masih sering muncul dalam pikiran saya, terutama ketika sedang melihat peta atau kebetulan melewati jalan yang lampunya mati.

Longkali itu kecil. Tidak banyak yang tahu namanya kalau tidak punya urusan di sana. Kehidupannya pelan, warganya saling kenal, dan malamnya benar-benar malam. Bukan seperti malam di Samarinda yang masih penuh cahaya dan suara kendaraan. Di sana, kalau lampu jalan tidak ada, gelapnya terasa betul.

Nah, dari situlah semuanya bermula.

Saya ingat pernah melewati salah satu jalan di Longkali waktu sudah lumayan malam. Gelap, sepi, dan yang ada di pikiran saya waktu itu cuma satu, “ah, lampunya mati lagi.” Selesai. Saya terus jalan. Tapi entah kenapa, beberapa waktu kemudian pikiran itu kembali lagi, dan kali ini disertai pertanyaan yang berbeda. Kalau saya perempuan, apakah saya akan merasa hal yang sama?

Apakah saya akan setenang itu?

Kemungkinan besar tidak.

Dan itu membuat saya diam cukup lama.

Soal rasa aman yang lebih dari sekadar fisik, saya akui itu hampir tidak pernah saya pikirkan. Paling jauh saya hanya khawatir jalanannya rusak atau ada lubang yang tidak kelihatan. Tapi perempuan yang melewati jalan yang persis sama, di jam yang sama, bisa punya pengalaman yang benar-benar berbeda. Dan itu bukan soal mereka terlalu khawatir atau tidak berani.

See full entry

Location: Long Kali, Paser, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Saya punya kebiasaan yang mungkin juga dilakukan banyak perempuan lain: kalau pulang malam, saya lebih pilih jalan yang terang walaupun harus muter lebih jauh.

Dulu saya nggak pernah benar-benar memikirkan alasan di balik itu. Rasanya cuma seperti kebiasaan biasa. Sampai suatu malam, habis kerja kelompok di kampus, saya sadar kalau hampir semua teman perempuan saya melakukan hal yang sama.

“Lewat sini aja, lebih ramai.” “Jangan lewat belakang, gelap.”

Kalimat-kalimat kayak gitu sering banget terdengar sederhana. Tapi sebenarnya, itu menunjukkan kalau perempuan punya banyak pertimbangan saat berada di ruang publik. Dan anehnya, hal-hal seperti itu jarang terlihat di peta. Padahal setiap hari kita selalu bergantung pada peta. Mau cari tempat makan, cari jalan tercepat, sampai nyari lokasi tugas lapangan, pasti buka maps. Saya juga begitu. Buat saya dulu, peta cuma sekadar alat penunjuk arah. Nggak lebih. Sampai akhirnya saya kenal OpenStreetMap. Awalnya saya kira OpenStreetMap itu aplikasi yang ribet dan cuma dipakai orang-orang tertentu yang ngerti teknologi atau geospasial. Tapi ternyata setelah saya cari tahu, konsepnya sederhana sekaligus menarik. OpenStreetMap adalah peta digital terbuka yang bisa dilengkapi langsung oleh masyarakat.

Di situlah saya mulai sadar kalau ternyata peta bukan cuma soal lokasi. Peta juga bisa menggambarkan bagaimana orang merasakan suatu tempat. Saya jadi mulai memperhatikan hal-hal kecil di sekitar yang sebelumnya sering saya anggap biasa aja. Misalnya lampu jalan yang minim, halte yang terlalu sepi, trotoar yang rusak, atau jalan kecil yang sebenarnya bikin nggak nyaman dilewati malam hari. Buat sebagian orang mungkin itu hal biasa. Tapi buat perempuan, kadang hal-hal kecil seperti itu bisa menentukan rasa aman.

See full entry

Location: Sempaja Selatan, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Melihat Pemetaan dari Sudut Pandang Perempuan

Awal Mengenal OSM

Saya pertama kali mengenal OpenStreetMap atau OSM dari mata kuliah PRB, yaitu Pengurangan Risiko Bencana. Awalnya saya mengira OSM hanya seperti peta digital biasa yang digunakan untuk melihat jalan, bangunan, atau mencari lokasi tertentu. Namun, setelah mengikuti pembelajaran di mata kuliah tersebut, saya mulai memahami bahwa peta ternyata memiliki peran yang lebih luas. Peta bukan hanya menunjukkan arah, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan, mengenali wilayah rawan bencana, dan mengetahui fasilitas penting yang ada di sekitarnya.

Dalam mata kuliah PRB, saya belajar bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tata ruang, dan kesiapan masyarakat. Di sinilah pemetaan menjadi penting. Melalui peta, kita bisa melihat jalur evakuasi, lokasi fasilitas kesehatan, titik kumpul, tempat aman, hingga wilayah yang memiliki potensi risiko bencana. Dari situ saya mulai melihat bahwa OSM bukan hanya alat untuk menggambar jalan, tetapi juga bisa menjadi media untuk membantu keselamatan banyak orang.

Sebelum mengenal OSM lebih jauh, saya melihat peta hanya sebagai kumpulan garis, titik, dan nama tempat. Namun setelah mempelajarinya, saya mulai sadar bahwa setiap titik di peta bisa memiliki arti penting bagi masyarakat. Satu jalan yang ditambahkan, satu bangunan yang dipetakan, atau satu fasilitas umum yang dilengkapi informasinya dapat membantu orang lain, terutama saat mereka membutuhkan informasi dengan cepat. Dalam keadaan darurat, informasi kecil di peta bisa menjadi sangat berguna.

Perempuan dan Pemetaan

See full entry

Sekolah saya adalah tempat yang benar-benar berkomitmen untuk menjaga kenyamanan dan keamanan semua siswi, guru perempuan, dan staf perempuan. Lewat proyek pemetaan kecil pakai OpenStreetMap (OSM), saya malah menemukan bahwa sekolah kami sudah punya banyak fasilitas yang peka terhadap gender dan bisa jadi contoh yang baik.

Toilet perempuan di sekolah kami terpisah dengan jelas dari toilet laki-laki. Letaknya strategis di tempat yang ramai, dilengkapi dengan pencahayaan yang terang, pintu yang bisa dikunci dengan baik, air bersih yang selalu mengalir, dan ada tempat sampah tertutup di setiap bilik untuk menjaga kebersihan saat menstruasi. UKS di sekolah juga memiliki ruang pribadi yang nyaman dengan sekat untuk siswi yang mengalami kram menstruasi yang parah, sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa merasa risih atau malu.

Koridor sekolah, tempat parkir, dan jalan menuju kantin serta laboratorium sudah dipasang lampu yang cukup terang, sehingga membuat siswi merasa aman saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sampai sore hari. Sekolah kami bangga memiliki ruang laktasi yang bersih dan nyaman untuk guru perempuan yang sedang menyusui. Dengan adanya ruang ini, mereka bisa memerah ASI dengan tenang selama jam kerja.

Saya telah memetakan semua fasilitas yang ramah perempuan ini secara rinci di OpenStreetMap dengan menggunakan tag seperti amenity=toilets, unisex=no, toilets:disposal=flush, highway=street_lamp, dan amenity=first_aid. Data ini menunjukkan bahwa sekolah kami peduli dan telah menciptakan lingkungan yang adil, setara, dan nyaman untuk perempuan. Pemetaan ini tidak bertujuan untuk menemukan kekurangan, tetapi untuk mencatat kebaikan yang sudah ada dan juga untuk memotivasi sekolah-sekolah lain agar melakukan hal yang sama. Sekolah yang mendukung perempuan adalah sekolah yang akan membawa keberhasilan di masa depan.

Fasilitas tanpa asap rokok di cafe tomorro samarinda Hallo, dalam memperingati Hari Perempuan Nasional, saya melakukan kegiatan pemetaan fasilitas umum di cafe tomorro samarinda menggunakan OSM untuk melihat tingkat kenyamanan wanita maupun anak anak saat berada di suatu lingkungan cafe.

Cafe merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan akivitas seperti mengerjakan tugas,laporan,hingga skripsi karna tempat nya yang nyaman dengan ac,kursi yang lembut,serta wifi dan stop kontak.

Namun ada beberapa cafe yang masih mengabung untuk kalangan perokok dan non perokok hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan beberapa orang terutama wanita karna wanita sangat rentan atau sensitif jika terkena asap rokok.

Maka dari itu cafe Tomoro menyediakan tempat terpisah untuk para kalangan yang perokok serta non perokok dimana untuk non perokok sendiri berada di lantai 1 dan 2 sedang kan area perokok berada di lantai 3.

Hal ini dapat menjadikan para pengunjung wanita maupun anak kecil dan kalangan non perokok menjadi lebih nyaman karna terhindar dari asap asap rokok/vape

Location: Temindung Permai, Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75119, Indonesia

Menavigasi Ruang Kenyamanan : Pemetaan Fasilitas Responsif Gender di RSUD Bontang melalui OpenStreetMap

Sejujurnya, saat pertama kali mengetahu informasi mengenai tema “Perempuan dan Pemetaan OpenStreetMap” dalam rangka menyambut Hari Perempuan Sedunia, saya sempat merasa bingung. Sebelumnya, saya mengira peta digital hanya berkaitan dengan hal-hal seperti menarik garis jalan, membuat poligon bangunan, atau memberi tanda lokasi . Karena itu, saya mulai penasaran, apa kaitannya peta dengan perspektif gender? Bukankah isi dari peta akan terlihat sama saja bagi setiap gender, baik laki-laki maupun perempuan?

Rasa penasaran membuat saya untuk membuka laptop, masuk ke situs OpenStreetMap (OSM), dan mengetik kata kunci “RSUD Bontang” di kolom pencarian. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bontang adalah salah satu fasilitas kesehatan penting di Kota Bontang bertepatan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Provinsi Kalimantan Timur, kebetulan saya bertempat tinggal di area dan Kota ini, tentunya dengan pengetahuan lokal yang saya miliki belum cukup, Saya mencari berbagai informasi tentang RSUD Bontang di OpenStreetMap untuk memahami lebih lanjut tentang fasilitas kesehatan yang ada.

Saya sangat setuju bahwa ruang publik sering kali tidak didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan semua orang, terutama perempuan dan ibu. Hal-hal seperti, jalur yang tidak ramah bagi stroller bayi atau kurangnya ruang laktasi membuat pengalaman di tempat umum menjadi tidak nyaman.Dengan proyek pemetaan kecil-kecilan ini, saya ingin fokus pada aspek-aspek yang bisa membuat RSUD Bontang lebih ramah perempuan dan anak, seperti: 1. Lokasi ruang laktasi. 2. Aksesibilitas jalur bagi pengguna kursi roda/stroller. 3. Keamanan jalur pejalan kaki, terutama di malam hari. 4. Ruang Bersalin Memadai 5. Area Tanpa Asap Rokok 6. Area Bermain Anak 7. Toilet Khusus Perempuan

See full entry

Location: Gunung Telihan, Bontang, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75313, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender di Teras Samarinda

Berapa minggu yang lalu saya berjalan-jalan ke Teras Samarinda untuk menikmati suasana di tepi Sungai Mahakam. Cuaca hari itu cukup cerah, dan angin bersepoi sepoi Saat memasuki area Teras Samarinda, saya melihat banyak orang berkumpul di tempat itu. Banyak orang yang berkunjung bersama keluarga, teman, dan pasangan mereka. Banyak pula yang duduk dikursi yang sudah disediakan dan juga ditangga yang langsung menghadap panggung.

Di teras Samarinda juga banyak kegiatan warga lokal yang berlangsung secara bersamaan. Beberapa orang tampak berjalan santai di trotoar, memakan cemilan, dan ada juga yang berfoto dengan latar belakang Sungai Mahakam, dan banyak anak anak bermain disana. Suasana tersebut memperlihatkan bahwa Teras Samarinda menjadi ruang publik tempat orang aktif berkumpul dan bersosialisasi. Selain ramai area ini juga banyak orang yang berdagang berbagai makanan dan minuman. Dengan banyak nya pedagang di Teras Samarinda semakin banyak pula pengunjung yang datang dan membeli makanan tersebut.

Saya juga memperhatikan banyak orang yang baru saja selesai berolahraga di sore hari seperti jogging dan bersepeda mampir untuk beristirahat, Mereka tampak santai sambil duduk dan mengobrol dengan teman-teman dan menikmati minuman yang mereka beli setelah berolahraga. Jalur pejalan kaki di area ini cukup lebar dan nyaman untuk digunakan orang untuk berjalan kaki atau berolahraga ringan. Jalur yang tertata rapi membuat pengunjung merasa aman dan nyaman saat menikmati aktivitas di area tersebut.

See full entry

Location: Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

We all gave OpenStreetMap a try once, no? Same for me. No idea how old my (old) account is. I haven’t used it for years, and I wasn’t able to re-enable it again… but… in Autumn 2024, a friend told me about StreetComplete. I liked the idea of StreetComplete. Everyone likes it. But as mentioned, I had to create a new account for all of this 🤦 But it was worth it!

In this Autumn, my OpenStreetMap journey started. In Büsum, Northern Germany. In my vacation… After my vacation and multiple passing weeks, I mapped more and more. Dived into many details, tried to gather more and more knowledge in many areas, and there was and still is so unbelievably much. I took every opportunity combining required doings in the “real world” with mapping them in the virtual world. My friend and I discussed mapping, tools, great plans, even better ideas and so on and so forth. Well, we all had such dreams, no?

At some point we thought that OpenStreetMap should become a more prominent topic in our town. There was already a wiki page for our town. If I remember correctly, the last changes were from 2009. It contained great ideas and plans, but you can imagine that a lot has changed in the last ~15 years. In OSM and also in our town. Understandably, basically all content was out of date.

Since we collected already a lot of ideas what could be done, we started to re-write the wiki page step by step. The idea was to create a new entry point for people that are interested in OpenStreetMap in our town. Give them ideas on what can be done in our town. Also, since no one really likes to maintain MediaWiki pages regularly 🙈 the page should be pretty static. The content should give beginners, intermediates and nerds a helping hand on how to start on anything.

So everyone should find their obsession… mapping hydrants, trees, playgrounds ❤️ And be honest: You all have one!

See full entry

Location: Innenstadt, Fulda, Landkreis Fulda, Hesse, Germany

Wir alle haben OpenStreetMap schon mal ausprobiert, oder? Ich natürlich auch. Keine Ahnung wie alt mein (altes) Konto ist. Ich habe es jahrelang nicht genutzt und konnte es auch nicht mehr reaktivieren… Aber im Herbst 2024 erzählte mir ein Freund von StreetComplete. Die Idee hatte mich begeistert. Wie eigentlich jeden, oder? Wie bereits erwähnt, musste ich dafür ein neues Konto erstellen 🤦 Aber es war es wert!

In diesem Herbst begann meine OpenStreetMap-Reise. In Büsum, Norddeutschland. Im Urlaub… Nach meinem Urlaub und den vielen darauffolgenden Wochen mappte ich immer mehr, tauchte in viele Details ein, versuchte immer mehr Wissen in vielen Bereichen zu sammeln — und es gibt so unglaublich viele davon. Ich nutzte jede Gelegenheit, notwendige Erledigungen in der „echten Welt” mit dem Kartieren in der virtuellen Welt zu verbinden. Mein Freund und ich diskutierten über das Kartieren, Tools, große Pläne, noch bessere Ideen und so weiter und so fort. Nun ja, solche Träume kennen wir alle, oder?

Irgendwann dachten wir, dass OpenStreetMap in unserer Stadt ein prominenteres Thema werden sollte. Es gab bereits eine Wiki-Seite für unsere Stadt. Wenn ich mich richtig erinnere, stammen die letzten Änderungen aus 2009. Sie enthielt tolle Ideen und Pläne, aber man kann sich vorstellen, wie viel sich in den letzten ~15 Jahren verändert hat. In OSM und auch in unserer Stadt. Verständlicherweise war so gut wie der gesamte Inhalt veraltet.

See full entry

Location: Innenstadt, Fulda, Landkreis Fulda, Hessen, Deutschland

Keamanan dan Kenyamanan Perempuan di Ruang Publik

Perhatian Fasilitas Publik terhadap Perempuan

Sebagai perempuan, saya sering merasa kurang nyaman ketika berada di ruang publik, apalagi jika tempat tersebut terlalu sepi atau minim penerangan. Kadang ada rasa takut ketika harus berjalan sendiri atau berada di tempat umum dalam waktu yang cukup lama. Apalagi sekarang cukup banyak berita mengenai pelecehan atau tindakan yang membuat perempuan merasa tidak aman ketika berada di luar rumah. Karena itu, menurut saya rasa aman dan nyaman bagi perempuan di ruang publik merupakan hal yang sangat penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering kali harus lebih berhati-hati dibandingkan laki-laki. Mulai dari memilih jalan yang ramai, menghindari tempat yang terlalu gelap, sampai selalu memperhatikan keadaan sekitar ketika berada di tempat umum. Hal-hal seperti itu sebenarnya cukup melelahkan karena perempuan jadi terbiasa merasa waspada setiap saat.

Menurut saya, fasilitas umum seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk melakukan aktivitas tertentu, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penggunanya. Namun kenyataannya, masih banyak fasilitas umum yang belum terlalu memperhatikan kebutuhan perempuan. Beberapa tempat umum masih memiliki area yang minim penerangan, ruang tunggu yang kurang nyaman, atau belum menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan perempuan dan anak-anak.

Karena itu, saya mulai menyadari pentingnya fasilitas umum yang responsif terhadap gender. Menurut saya, fasilitas umum yang responsif gender bukan hanya tentang bangunan yang bagus atau modern, tetapi bagaimana tempat tersebut mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan perhatian terhadap kebutuhan perempuan.

See full entry

Location: Sidodadi, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

## Ruang Publik yang Ramah Perempuan: Refleksi Fasilitas Responsif Gender di Samarinda Theme Park

Halo, semua! Dalam memperingati “International Women’s Day”, disini saya akan membagikan pengalaman menyenangkan yang pernah saya alami.

Beberapa waktu terakhir, saya sadar bahwa ruang publik belum benar-benar aman bagi perempuan untuk beraktivitas. Kesadaran ini muncul ketika sedang berkegiatan di luar dan mengalami sendiri bagaimana saya harus selalu waspada setiap kali berada di luar rumah. Begitu pun ketika saya melihat perempuan lain, baik secara langsung maupun lewat cerita dan film. Seperti hampir seluruh perempuan pernah merasa tidak aman ketika berada di tempat umum, entah dikarenakan dipandang untuk waktu yang lama, mendapatkan komentar atau seruan tidak sopan, diikuti oleh orang asing, bahkan merasa takut ketika sedang melewati jalan-jalan yang sepi.

Adapun hal-hal seperti ini malah dianggap biasa oleh masyarakat luas tanpa mempertimbangkan dampak yang sangat besar bagi perempuan di luar sana. Jika boleh berkata jujur, saya sendiri sangat sering merasa tidak aman ketika sedang beraktivitas di tempat umum. Bahkan ketika melakukan kegiatan sesederhana jalan sendirian, menggunakan ke toilet umum, atau sekedar duduk di tempat yang ramai oleh orang banyak. Dibanyak kasus, perempuan selalu saja dituntut untuk menjadi lebih hati-hati, seakan-akan apabila terjadi suatu kejadian yang tidak diinginkan, hal tersebut adalah kesalahan bahkan tanggung jawab dari perempuan itu sendiri.

See full entry

Location: Lempake, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ada yang melakukan lari atau jalan santai, jajan, berkumpul dengan teman, pasangan, atau keluarga, atau hanya sekadar duduk santai disana. Namun, salah satu permasalahan yang cukup penting menurut saya di tempat ini adalah, pencahayaan yang kurang pada saat malam hari. Karena pencahayaan yang kurang ini, saya takut para perempuan terutama yang pergi kesana sendirian, justru dapat perlakuan yang tidak pantas seperti pelecehan atau barang mereka dicopet oleh para oknum yang ada disana. Dengan pemetaan dari OpenStreetMap ini, diharapkan kita bisa memetakan titik titik yang gelap di daerah Taman Samarendah, setelah dilakukan penitikan kita bisa melaporkan ke pihak terkait untuk memperbaiki pencahayaan di titik titik tadi.

Penutup

Sebagai penutup, semoga apa yang saya sampaikan bisa diterapkan dan menjadi rekomendasi yang bermanfaat, dan juga supaya Taman Samarendah bisa menjadi ruang terbuka hijau yang aman bagi perempuan

Location: Bugis, Samarinda Kota, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75129, Indonesia

Mengenal OSM dan belajar dari perempuan di dunia pemetaan

Sebagai mahasiswa ilmu lingkungan saya sering mendengar istilah peta dan data spasial dalam perkuliahan. Tapi jujur, saya sebelumnya tidak terlalu memahami bagaimana sebuah peta dibuat dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Di pikiran saya peta hanya alat untuk menunjukkan lokasi atau mencari arah ketika kita jalan. Pandangan saya akan hal itu mulai berubah ketika saya mengenal OSM. Saya mengetahui OSM dari kelas pengurangan risiko bencana oleh bu melin, ternyata masyarakat biasa juga bisa ikut berkontribusi membuat dan memperbarui data peta secara bersama sama

OSM sebagai wadah berkontribusi

Perempuan khususnya para ibu-ibu, biasanya telah mengenal lokasi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti posyandu, pasar, sekolah, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatanwarga. Karena sering berinteraksi dengan lokasi serta fasilitas tersebut, mereka meiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitar, seperti lokasi penduduk, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pemetaan Partisipatif Berbasis Perempuan di OSM

Ketika Sebuah Desa Tidak Ada di Peta: Awal Perjalanan Menjadi Relawan Pemetaan

Saya adalah seorang mahasiswi yang lahir di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini ditandai dengan perkebunan kelapa sawit yang menutupi hampir seluruh wilayahnya, kawasan hutan yang masih dilestarikan, serta infrastruktur jalan yang sebagian besar masih terbuat dari batu. Jumlah fasilitas umum yang tersedia di wilayah ini relatif terbatas. Kondisi geografis tersebut menyulitkan identifikasi akses jalan secara jelas baik pada peta konvensional maupun digital. Komunitas pemukiman di desa ini juga sulit diamati dengan jelas melalui citra satelit, terutama karena tertutupi oleh lapisan awan yang cukup tebal. Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah ini masih sangat rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Infrastruktur jaringan telekomunikasi yang terbatas semakin menambah kesulitan dalam mendeteksi wilayah ini secara optimal melalui teknologi pemetaan berbasis satelit.

See full entry

Location: Bukit Permata, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia