OpenStreetMap logo OpenStreetMap

Diary Entries in Indonesian

Recent diary entries

Jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Beberapa perempuan telah berdiri di sebuah warung gelap di simpang Jalan Haur Pancuh, Dipatiukur. Mereka menantikan bus Metro Jabar Trans Koridor 4 menuju arah Leuwipanjang untuk berangkat bekerja. Pada waktu yang hampir bersamaan, belasan mahasiswa, sebagian besar perempuan, menunggu bus Metro Jabar Trans Koridor 5 di Perhentian SPBU Moh. Toha untuk berangkat kuliah di Jatinangor. Meskipun menjadi perhentian bus favorit bagi penumpang Metro Jabar Trans, tempat tersebut hanya beralaskan tanah, tanpa penerangan, dan tanpa kamera pengawas.

Kondisi seperti ini sudah lama terjadi pada prasarana transportasi umum di Kota Bandung. Tindakan kriminal dan pelecehan seksual terus membayangi calon penumpang transportasi umum yang sedang menunggu akibat minimnya kualitas prasarana. Bukan hanya prasarana untuk Metro Jabar Trans, melainkan semua moda transportasi darat di Kota Bandung (Trans Metro Bandung, Damri, angkot, bus AKAP, dan bus AKDP).

Saya telah aktif memetakan fasilitas pemberhentian bus di Kota Bandung sejak dua tahun terakhir. Bersama dengan organisasi yang saya ikuti, Transport for Bandung, kami aktif memperbaharui data titik-titik perhentian di Kota Bandung untuk edukasi ke masyarakat dan advokasi ke pemangku kepentingan. Diary ini merupakan catatan yang ingin saya sampaikan dalam proyek kecil-kecilan ini.

Keberadaan bangunan halte

Kendati istilah “halte” dapat merujuk pada tempat penumpang menunggu dan menaiki transportasi umum, tidak peduli bentuk dan kelengkapan fasilitasnya, saya lebih nyaman menyebut istilah tersebut untuk tempat yang memiliki bangunan/shelter. Bukan tanpa alasan, operator dan regulator telah menggunakan istilah “halte” untuk tempat-tempat tanpa fasilitas yang memadai, hanya supaya kewajiban mereka terpenuhi.

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Hari ini aku sempat merenung lama di depan laptop, menatap sebuah peta digital yang sedang aku kerjakan. Setelah aku menatap lama, tiba - tiba aku terpikir akan satu hal ? kira - kira seberapa banyak ya? bumi menciptakan ruang yang benar - benar ramah dan terbuka untuk perempuan. Aku tahu bumi ini sangat lah luas akan tetapi seringkali ruang gerak perempuan dalam pendidikan dan karier masih diberi garis pembatas yang tak kasat mata. Aku sering mendengarkan anggapan kalau dunia pemetaan bahkan kerja lapangan itu ranahnya hanya ke laki - laki. Tapi menurutku, dunia geospasial bukan hanya lelaki berperan namun, butuh lebih banyak sentuhan perempuan. Kita punya hak dan kemampuan yang sama untuk memimpin di bidang ini. Aku suka bertanya - tanya dengan diriku “ bisa gak ya aku melangkah sejauh yang ku impikan? “ Memang, akses pendidikan untuk perempuan dengan spasial ini sudah jauh lebih terbuka. Sebagai mahasiswi yang duduk dibangku kuliah dengan jembatan menuju karier yang ku impikan, Akan ku peluk karier impian ku yang ku perjuangkan. Membuktikan kalau perempuan juga punya tempat yang sama besarnya untuk karier nya di bidang ini khususnya tempat dimana sains bertemu yang di dalam nya aku sebagai perempuan, Berani bermimpi setinggi langit tanpa takut terhalang gender. Bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek yang di petakan namun membawa kepekaan dan dedikasi di setiap koordinat yang kita tarik. Sekalipun bersuara, aku menyuarakan “ Mimpi Bukanlah Ajang Prestasi Tapi Melainkan Usaha Yang Kita Coba Dengan Penuh Harapan “.

Location: Sempaja Selatan, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Peta, Ruang Publik, dan Kepedulian terhadap Rasa Aman Perempuan

Saya sudah lama tidak kembali ke Longkali. Tapi anehnya, tempat itu masih sering muncul dalam pikiran saya, terutama ketika sedang melihat peta atau kebetulan melewati jalan yang lampunya mati.

Longkali itu kecil. Tidak banyak yang tahu namanya kalau tidak punya urusan di sana. Kehidupannya pelan, warganya saling kenal, dan malamnya benar-benar malam. Bukan seperti malam di Samarinda yang masih penuh cahaya dan suara kendaraan. Di sana, kalau lampu jalan tidak ada, gelapnya terasa betul.

Nah, dari situlah semuanya bermula.

Saya ingat pernah melewati salah satu jalan di Longkali waktu sudah lumayan malam. Gelap, sepi, dan yang ada di pikiran saya waktu itu cuma satu, “ah, lampunya mati lagi.” Selesai. Saya terus jalan. Tapi entah kenapa, beberapa waktu kemudian pikiran itu kembali lagi, dan kali ini disertai pertanyaan yang berbeda. Kalau saya perempuan, apakah saya akan merasa hal yang sama?

Apakah saya akan setenang itu?

Kemungkinan besar tidak.

Dan itu membuat saya diam cukup lama.

Soal rasa aman yang lebih dari sekadar fisik, saya akui itu hampir tidak pernah saya pikirkan. Paling jauh saya hanya khawatir jalanannya rusak atau ada lubang yang tidak kelihatan. Tapi perempuan yang melewati jalan yang persis sama, di jam yang sama, bisa punya pengalaman yang benar-benar berbeda. Dan itu bukan soal mereka terlalu khawatir atau tidak berani.

See full entry

Location: Long Kali, Paser, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Saya punya kebiasaan yang mungkin juga dilakukan banyak perempuan lain: kalau pulang malam, saya lebih pilih jalan yang terang walaupun harus muter lebih jauh.

Dulu saya nggak pernah benar-benar memikirkan alasan di balik itu. Rasanya cuma seperti kebiasaan biasa. Sampai suatu malam, habis kerja kelompok di kampus, saya sadar kalau hampir semua teman perempuan saya melakukan hal yang sama.

“Lewat sini aja, lebih ramai.” “Jangan lewat belakang, gelap.”

Kalimat-kalimat kayak gitu sering banget terdengar sederhana. Tapi sebenarnya, itu menunjukkan kalau perempuan punya banyak pertimbangan saat berada di ruang publik. Dan anehnya, hal-hal seperti itu jarang terlihat di peta. Padahal setiap hari kita selalu bergantung pada peta. Mau cari tempat makan, cari jalan tercepat, sampai nyari lokasi tugas lapangan, pasti buka maps. Saya juga begitu. Buat saya dulu, peta cuma sekadar alat penunjuk arah. Nggak lebih. Sampai akhirnya saya kenal OpenStreetMap. Awalnya saya kira OpenStreetMap itu aplikasi yang ribet dan cuma dipakai orang-orang tertentu yang ngerti teknologi atau geospasial. Tapi ternyata setelah saya cari tahu, konsepnya sederhana sekaligus menarik. OpenStreetMap adalah peta digital terbuka yang bisa dilengkapi langsung oleh masyarakat.

Di situlah saya mulai sadar kalau ternyata peta bukan cuma soal lokasi. Peta juga bisa menggambarkan bagaimana orang merasakan suatu tempat. Saya jadi mulai memperhatikan hal-hal kecil di sekitar yang sebelumnya sering saya anggap biasa aja. Misalnya lampu jalan yang minim, halte yang terlalu sepi, trotoar yang rusak, atau jalan kecil yang sebenarnya bikin nggak nyaman dilewati malam hari. Buat sebagian orang mungkin itu hal biasa. Tapi buat perempuan, kadang hal-hal kecil seperti itu bisa menentukan rasa aman.

See full entry

Location: Sempaja Selatan, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Melihat Pemetaan dari Sudut Pandang Perempuan

Awal Mengenal OSM

Saya pertama kali mengenal OpenStreetMap atau OSM dari mata kuliah PRB, yaitu Pengurangan Risiko Bencana. Awalnya saya mengira OSM hanya seperti peta digital biasa yang digunakan untuk melihat jalan, bangunan, atau mencari lokasi tertentu. Namun, setelah mengikuti pembelajaran di mata kuliah tersebut, saya mulai memahami bahwa peta ternyata memiliki peran yang lebih luas. Peta bukan hanya menunjukkan arah, tetapi juga dapat membantu masyarakat memahami kondisi lingkungan, mengenali wilayah rawan bencana, dan mengetahui fasilitas penting yang ada di sekitarnya.

Dalam mata kuliah PRB, saya belajar bahwa bencana tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tata ruang, dan kesiapan masyarakat. Di sinilah pemetaan menjadi penting. Melalui peta, kita bisa melihat jalur evakuasi, lokasi fasilitas kesehatan, titik kumpul, tempat aman, hingga wilayah yang memiliki potensi risiko bencana. Dari situ saya mulai melihat bahwa OSM bukan hanya alat untuk menggambar jalan, tetapi juga bisa menjadi media untuk membantu keselamatan banyak orang.

Sebelum mengenal OSM lebih jauh, saya melihat peta hanya sebagai kumpulan garis, titik, dan nama tempat. Namun setelah mempelajarinya, saya mulai sadar bahwa setiap titik di peta bisa memiliki arti penting bagi masyarakat. Satu jalan yang ditambahkan, satu bangunan yang dipetakan, atau satu fasilitas umum yang dilengkapi informasinya dapat membantu orang lain, terutama saat mereka membutuhkan informasi dengan cepat. Dalam keadaan darurat, informasi kecil di peta bisa menjadi sangat berguna.

Perempuan dan Pemetaan

See full entry

Sekolah saya adalah tempat yang benar-benar berkomitmen untuk menjaga kenyamanan dan keamanan semua siswi, guru perempuan, dan staf perempuan. Lewat proyek pemetaan kecil pakai OpenStreetMap (OSM), saya malah menemukan bahwa sekolah kami sudah punya banyak fasilitas yang peka terhadap gender dan bisa jadi contoh yang baik.

Toilet perempuan di sekolah kami terpisah dengan jelas dari toilet laki-laki. Letaknya strategis di tempat yang ramai, dilengkapi dengan pencahayaan yang terang, pintu yang bisa dikunci dengan baik, air bersih yang selalu mengalir, dan ada tempat sampah tertutup di setiap bilik untuk menjaga kebersihan saat menstruasi. UKS di sekolah juga memiliki ruang pribadi yang nyaman dengan sekat untuk siswi yang mengalami kram menstruasi yang parah, sehingga mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa merasa risih atau malu.

Koridor sekolah, tempat parkir, dan jalan menuju kantin serta laboratorium sudah dipasang lampu yang cukup terang, sehingga membuat siswi merasa aman saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sampai sore hari. Sekolah kami bangga memiliki ruang laktasi yang bersih dan nyaman untuk guru perempuan yang sedang menyusui. Dengan adanya ruang ini, mereka bisa memerah ASI dengan tenang selama jam kerja.

Saya telah memetakan semua fasilitas yang ramah perempuan ini secara rinci di OpenStreetMap dengan menggunakan tag seperti amenity=toilets, unisex=no, toilets:disposal=flush, highway=street_lamp, dan amenity=first_aid. Data ini menunjukkan bahwa sekolah kami peduli dan telah menciptakan lingkungan yang adil, setara, dan nyaman untuk perempuan. Pemetaan ini tidak bertujuan untuk menemukan kekurangan, tetapi untuk mencatat kebaikan yang sudah ada dan juga untuk memotivasi sekolah-sekolah lain agar melakukan hal yang sama. Sekolah yang mendukung perempuan adalah sekolah yang akan membawa keberhasilan di masa depan.

Fasilitas tanpa asap rokok di cafe tomorro samarinda Hallo, dalam memperingati Hari Perempuan Nasional, saya melakukan kegiatan pemetaan fasilitas umum di cafe tomorro samarinda menggunakan OSM untuk melihat tingkat kenyamanan wanita maupun anak anak saat berada di suatu lingkungan cafe.

Cafe merupakan tempat yang nyaman untuk melakukan akivitas seperti mengerjakan tugas,laporan,hingga skripsi karna tempat nya yang nyaman dengan ac,kursi yang lembut,serta wifi dan stop kontak.

Namun ada beberapa cafe yang masih mengabung untuk kalangan perokok dan non perokok hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan beberapa orang terutama wanita karna wanita sangat rentan atau sensitif jika terkena asap rokok.

Maka dari itu cafe Tomoro menyediakan tempat terpisah untuk para kalangan yang perokok serta non perokok dimana untuk non perokok sendiri berada di lantai 1 dan 2 sedang kan area perokok berada di lantai 3.

Hal ini dapat menjadikan para pengunjung wanita maupun anak kecil dan kalangan non perokok menjadi lebih nyaman karna terhindar dari asap asap rokok/vape

Location: Temindung Permai, Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75119, Indonesia

Menavigasi Ruang Kenyamanan : Pemetaan Fasilitas Responsif Gender di RSUD Bontang melalui OpenStreetMap

Sejujurnya, saat pertama kali mengetahu informasi mengenai tema “Perempuan dan Pemetaan OpenStreetMap” dalam rangka menyambut Hari Perempuan Sedunia, saya sempat merasa bingung. Sebelumnya, saya mengira peta digital hanya berkaitan dengan hal-hal seperti menarik garis jalan, membuat poligon bangunan, atau memberi tanda lokasi . Karena itu, saya mulai penasaran, apa kaitannya peta dengan perspektif gender? Bukankah isi dari peta akan terlihat sama saja bagi setiap gender, baik laki-laki maupun perempuan?

Rasa penasaran membuat saya untuk membuka laptop, masuk ke situs OpenStreetMap (OSM), dan mengetik kata kunci “RSUD Bontang” di kolom pencarian. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bontang adalah salah satu fasilitas kesehatan penting di Kota Bontang bertepatan di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat, Provinsi Kalimantan Timur, kebetulan saya bertempat tinggal di area dan Kota ini, tentunya dengan pengetahuan lokal yang saya miliki belum cukup, Saya mencari berbagai informasi tentang RSUD Bontang di OpenStreetMap untuk memahami lebih lanjut tentang fasilitas kesehatan yang ada.

Saya sangat setuju bahwa ruang publik sering kali tidak didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan semua orang, terutama perempuan dan ibu. Hal-hal seperti, jalur yang tidak ramah bagi stroller bayi atau kurangnya ruang laktasi membuat pengalaman di tempat umum menjadi tidak nyaman.Dengan proyek pemetaan kecil-kecilan ini, saya ingin fokus pada aspek-aspek yang bisa membuat RSUD Bontang lebih ramah perempuan dan anak, seperti: 1. Lokasi ruang laktasi. 2. Aksesibilitas jalur bagi pengguna kursi roda/stroller. 3. Keamanan jalur pejalan kaki, terutama di malam hari. 4. Ruang Bersalin Memadai 5. Area Tanpa Asap Rokok 6. Area Bermain Anak 7. Toilet Khusus Perempuan

See full entry

Location: Gunung Telihan, Bontang, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75313, Indonesia

Keamanan dan Kenyamanan Perempuan di Ruang Publik

Perhatian Fasilitas Publik terhadap Perempuan

Sebagai perempuan, saya sering merasa kurang nyaman ketika berada di ruang publik, apalagi jika tempat tersebut terlalu sepi atau minim penerangan. Kadang ada rasa takut ketika harus berjalan sendiri atau berada di tempat umum dalam waktu yang cukup lama. Apalagi sekarang cukup banyak berita mengenai pelecehan atau tindakan yang membuat perempuan merasa tidak aman ketika berada di luar rumah. Karena itu, menurut saya rasa aman dan nyaman bagi perempuan di ruang publik merupakan hal yang sangat penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering kali harus lebih berhati-hati dibandingkan laki-laki. Mulai dari memilih jalan yang ramai, menghindari tempat yang terlalu gelap, sampai selalu memperhatikan keadaan sekitar ketika berada di tempat umum. Hal-hal seperti itu sebenarnya cukup melelahkan karena perempuan jadi terbiasa merasa waspada setiap saat.

Menurut saya, fasilitas umum seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk melakukan aktivitas tertentu, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penggunanya. Namun kenyataannya, masih banyak fasilitas umum yang belum terlalu memperhatikan kebutuhan perempuan. Beberapa tempat umum masih memiliki area yang minim penerangan, ruang tunggu yang kurang nyaman, atau belum menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan perempuan dan anak-anak.

Karena itu, saya mulai menyadari pentingnya fasilitas umum yang responsif terhadap gender. Menurut saya, fasilitas umum yang responsif gender bukan hanya tentang bangunan yang bagus atau modern, tetapi bagaimana tempat tersebut mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan perhatian terhadap kebutuhan perempuan.

See full entry

Location: Sidodadi, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

## Ruang Publik yang Ramah Perempuan: Refleksi Fasilitas Responsif Gender di Samarinda Theme Park

Halo, semua! Dalam memperingati “International Women’s Day”, disini saya akan membagikan pengalaman menyenangkan yang pernah saya alami.

Beberapa waktu terakhir, saya sadar bahwa ruang publik belum benar-benar aman bagi perempuan untuk beraktivitas. Kesadaran ini muncul ketika sedang berkegiatan di luar dan mengalami sendiri bagaimana saya harus selalu waspada setiap kali berada di luar rumah. Begitu pun ketika saya melihat perempuan lain, baik secara langsung maupun lewat cerita dan film. Seperti hampir seluruh perempuan pernah merasa tidak aman ketika berada di tempat umum, entah dikarenakan dipandang untuk waktu yang lama, mendapatkan komentar atau seruan tidak sopan, diikuti oleh orang asing, bahkan merasa takut ketika sedang melewati jalan-jalan yang sepi.

Adapun hal-hal seperti ini malah dianggap biasa oleh masyarakat luas tanpa mempertimbangkan dampak yang sangat besar bagi perempuan di luar sana. Jika boleh berkata jujur, saya sendiri sangat sering merasa tidak aman ketika sedang beraktivitas di tempat umum. Bahkan ketika melakukan kegiatan sesederhana jalan sendirian, menggunakan ke toilet umum, atau sekedar duduk di tempat yang ramai oleh orang banyak. Dibanyak kasus, perempuan selalu saja dituntut untuk menjadi lebih hati-hati, seakan-akan apabila terjadi suatu kejadian yang tidak diinginkan, hal tersebut adalah kesalahan bahkan tanggung jawab dari perempuan itu sendiri.

See full entry

Location: Lempake, Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ada yang melakukan lari atau jalan santai, jajan, berkumpul dengan teman, pasangan, atau keluarga, atau hanya sekadar duduk santai disana. Namun, salah satu permasalahan yang cukup penting menurut saya di tempat ini adalah, pencahayaan yang kurang pada saat malam hari. Karena pencahayaan yang kurang ini, saya takut para perempuan terutama yang pergi kesana sendirian, justru dapat perlakuan yang tidak pantas seperti pelecehan atau barang mereka dicopet oleh para oknum yang ada disana. Dengan pemetaan dari OpenStreetMap ini, diharapkan kita bisa memetakan titik titik yang gelap di daerah Taman Samarendah, setelah dilakukan penitikan kita bisa melaporkan ke pihak terkait untuk memperbaiki pencahayaan di titik titik tadi.

Penutup

Sebagai penutup, semoga apa yang saya sampaikan bisa diterapkan dan menjadi rekomendasi yang bermanfaat, dan juga supaya Taman Samarendah bisa menjadi ruang terbuka hijau yang aman bagi perempuan

Location: Bugis, Samarinda Kota, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75129, Indonesia

Mengenal OSM dan belajar dari perempuan di dunia pemetaan

Sebagai mahasiswa ilmu lingkungan saya sering mendengar istilah peta dan data spasial dalam perkuliahan. Tapi jujur, saya sebelumnya tidak terlalu memahami bagaimana sebuah peta dibuat dan siapa saja yang berperan di dalamnya. Di pikiran saya peta hanya alat untuk menunjukkan lokasi atau mencari arah ketika kita jalan. Pandangan saya akan hal itu mulai berubah ketika saya mengenal OSM. Saya mengetahui OSM dari kelas pengurangan risiko bencana oleh bu melin, ternyata masyarakat biasa juga bisa ikut berkontribusi membuat dan memperbarui data peta secara bersama sama

OSM sebagai wadah berkontribusi

Perempuan khususnya para ibu-ibu, biasanya telah mengenal lokasi yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti posyandu, pasar, sekolah, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatanwarga. Karena sering berinteraksi dengan lokasi serta fasilitas tersebut, mereka meiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitar, seperti lokasi penduduk, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pemetaan Partisipatif Berbasis Perempuan di OSM

Ketika Sebuah Desa Tidak Ada di Peta: Awal Perjalanan Menjadi Relawan Pemetaan

Saya adalah seorang mahasiswi yang lahir di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini ditandai dengan perkebunan kelapa sawit yang menutupi hampir seluruh wilayahnya, kawasan hutan yang masih dilestarikan, serta infrastruktur jalan yang sebagian besar masih terbuat dari batu. Jumlah fasilitas umum yang tersedia di wilayah ini relatif terbatas. Kondisi geografis tersebut menyulitkan identifikasi akses jalan secara jelas baik pada peta konvensional maupun digital. Komunitas pemukiman di desa ini juga sulit diamati dengan jelas melalui citra satelit, terutama karena tertutupi oleh lapisan awan yang cukup tebal. Selain itu, kepadatan penduduk di wilayah ini masih sangat rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Infrastruktur jaringan telekomunikasi yang terbatas semakin menambah kesulitan dalam mendeteksi wilayah ini secara optimal melalui teknologi pemetaan berbasis satelit.

See full entry

Location: Bukit Permata, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan di Taman Samarendah Kota Samarinda

Halo semuanya perkenalkan saya Zahir Taufiq Umarah, seorang mahasiswa yang ingin membahas keamanan ruang publik untuk perempuan.

Permasalahan

Salah satu ruang publik di Kota Samarinda, yaitu Taman Samarendah, adalah taman terbuka hijau yang tiap hari pasti selalu ada pengunjungnya. Banyak orang berkunjung kesana, ada yang melakukan lari atau jalan santai, jajan, berkumpul dengan teman, pasangan, atau keluarga, atau hanya sekadar duduk santai disana. Namun, salah satu permasalahan yang cukup penting menurut saya di tempat ini adalah, pencahayaan yang kurang pada saat malam hari. Karena pencahayaan yang kurang ini, saya takut para perempuan terutama yang pergi kesana sendirian, justru dapat perlakuan yang tidak pantas seperti pelecehan atau barang mereka dicopet oleh para oknum yang ada disana. Dengan pemetaan dari OpenStreetMap ini, diharapkan kita bisa memetakan titik titik yang gelap di daerah Taman Samarendah, setelah dilakukan penitikan kita bisa melaporkan ke pihak terkait untuk memperbaiki pencahayaan di titik titik tadi.

Penutup

Sebagai penutup, semoga apa yang saya sampaikan bisa diterapkan dan menjadi rekomendasi yang bermanfaat, dan juga supaya Taman Samarendah bisa menjadi ruang terbuka hijau yang aman bagi perempuan.

Location: Bugis, Samarinda Kota, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75129, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender

Pemanfaatan Ruang Publik yang Nyaman bagi Perempuan di Taman Cerdas Samarinda.

Halo, dalam memperingati Hari Perempuan Nasional, saya melakukan kegiatan pemetaan fasilitas umum di Taman Cerdas Samarinda menggunakan OpenStreetMap (OSM) untuk melihat bagaimana ruang publik dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi perempuan, anak-anak, dan keluarga.

Hari ini saya pergi ke Taman Cerdas Samarinda untuk mengerjakan tugas mata kuliah Pengurangan Risiko Bencana menggunakan OpenStreetMap atau OSM. Saya memilih tempat ini karena Taman Cerdas adalah salah satu taman kota yang cukup ramai dikunjungi masyarakat dan memiliki banyak fasilitas umum yang digunakan oleh perempuan, anak-anak, dan keluarga. Saya datang pada sore hari karena pada jam tersebut taman biasanya mulai ramai sehingga lebih mudah melihat aktivitas masyarakat dan kondisi fasilitas yang ada di sekitar taman.

Saat saya sampai di lokasi, keadaan taman terlihat cukup nyaman dan sejuk karena terdapat banyak pohon dan area terbuka hijau. Banyak masyarakat datang bersama keluarga, teman, maupun anak-anak mereka untuk bersantai dan menikmati suasana sore. Di sekitar taman terlihat anak-anak bermain, ada juga masyarakat yang duduk santai sambil saling berbicara, serta beberapa orang yang berjalan kaki dengan santai sambil mengelilingi taman. Suasana taman yang ramai membuat taman ini terasa cukup aman dan nyaman untuk dikunjungi.

See full entry

Location: Sidodadi, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Perempuan Membutuhkan Ruang Aman Dalam OpenStreetMap ang Bukan Sekedar Peta

Betapa Pentingnya Keamanan bagi para Perempuan

Bagi saya rasa aman bukan sekedar rasa yang bisa dirasakan bagi para perempuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Banyak perempuan yang merasakan rasa tidak aman di luar rumah, bukannya tempat umum seharusnya membuat semua orang merasa nyaman?. Namun akhir-akhir ini banyak sekali timbul keresahan yang dirasakan bagi para perempuan yang berada di luar rumah.

Dari banyaknya berita yang bermunculan di media sosial tentang aksi pelecehan secara verbal dan tindakan mencurigakan hingga kekerasan yang membuat perempuan merasa harus selalu berwaspada ketika berpergian Kondisi tersebut membuat saya menyadari bahwa perempuan sering kali memiliki pengalaman yang berbeda ketika berada di ruang publik dibandingkan dengan orang lain. Hal-hal sederhana seperti memilih jalan untuk dilewati, mencari tempat yang ramai, atau memastikan lokasi memiliki penerangan yang cukup menjadi pertimbangan penting sebelum bepergian.

Menurut saya, toilet umum dan jalan yang minim pencahayaan masih menjadi ruang publik yang kurang ramah bagi perempuan. Maraknya kasus kamera tersembunyi di toilet serta kondisi jalan yang sepi membuat banyak perempuan merasa tidak aman ketika beraktivitas di luar rumah, terutama pada malam hari.

Dari keresahan tersebut, saya mulai memahami bahwa pemetaan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mengenali area yang lebih aman untuk dilalui. Saya kemudian mengenal OpenStreetMap sebagai platform pemetaan terbuka yang memungkinkan masyarakat menambahkan informasi mengenai fasilitas umum dan kondisi ruang publik.

Melalui OpenStreetMap, saya menyadari bahwa peta bukan hanya tentang lokasi, tetapi juga tentang pengalaman dan rasa aman. Menurut saya, perempuan juga memiliki peran penting dalam pemetaan karena sudut pandang perempuan dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan inklusif.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Peran OpenStreetMap Dalam Mendukung Ruang Publik Ramah Perempuan

## Membangun Kota Yang Aman

  • Menurut saya, ruang publik tidak hanya berupa taman atau jalan umum, tetapi juga tempat ibadah yang digunakan masyarakat setiap hari. Salah satu tempat yang memberikan rasa nyaman bagi perempuan adalah Masjid Assa’id. Lingkungan masjid yang bersih, tertata rapi, dan mudah dijangkau membuat masyarakat merasa lebih nyaman ketika beraktivitas di sana. Fasilitas yang tersedia juga cukup mendukung kegiatan ibadah maupun kegiatan sosial lainnya.

  • Keberadaan informasi lokasi yang lengkap sangat membantu masyarakat, terutama perempuan, untuk menemukan tempat yang aman dan nyaman. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat melihat lokasi masjid, akses menuju tempat tersebut, serta fasilitas yang tersedia di sekitarnya. Informasi seperti ini sangat bermanfaat, khususnya bagi pendatang yang belum mengenal wilayah Samarinda.

  • Saya berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap pemetaan digital agar informasi ruang publik dapat terus diperbarui dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Women’s Day in OSM: Ruang Aman untuk Perempuan di Era Modern

Manifestasi nyata dari terciptanya ruang aman ini dapat kita temukan di lingkungan akademis Universitas Mulawarman, salah satunya melalui keberadaan Taman Gerbang Unmul atau yang akrab disapa “Bundaran Germul”. Tempat ini tidak sekadar berfungsi sebagai area fisik bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk melepas penat sembari menikmati senja. Lebih dari itu, tempat ini tidak sekadar berfungsi area fisik bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk melepas penat sembari menikmati senja. Lebih dari itu, tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang sosial yang inklusif dan demokratis. Di sinilah Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Mulawarman (BEM KM Unmul) menyelenggarakan agenda Women’s Day. Melalui apresiasi simbolis berupa pemberian bunga kepada setiap perempuan yang hadir, gerakan ini berhasil merebut kembali ruang publik yang selama ini didominasi narasi maskulin, mengubahnya menjadi sebuah ruang apresiasi yang humanis dan penuh penghormatan. Upaya progresif ini selaras dengan iklim akademis Universitas Mulawarman yang senantiasa menuntut ruang aman bagi kelompok rentan serta perlindungan hak-hak substansif warga negara. Sebagai salah satu pengguna aktif fasilitas publik ini, saya merasakan secara langsung esensi dari sebuah ruang aman yang sejati. Bundaran Germul bukan sekadar taman biasa, melainkan sebuah ekosistem sosial di mana para penggunanya memiliki kesadaran moral bersama bahwa perempuan bukanlah objek visual maupun seksual. Rasa aman dan nyaman yang hadir di tempat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari konsensus kolektif masyarakat akademis yang memahami bahwa kehormatan perempuan harus dijaga, dan ruang publik harus ramah bagi semua gender tanpa ada rasa takut akan perundungan ataupun pelecehan.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia