Users' Diaries

Recent diary entries

OpenStreetMap memudahkan perempuan mencari toilet umum

Fasilitas umum merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu fasilitas yang sering dianggap sederhana tetapi sangat dibutuhkan adalah toilet umum. Bagi perempuan, keberadaan toilet umum yang bersih, aman, dan mudah ditemukan tentu sangat membantu saat sedang berada di luar rumah. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat ikut berkontribusi menambahkan informasi fasilitas umum agar lebih mudah diakses oleh semua orang.

Toilet Umum dan Kebutuhan Perempuan

Kadang hal paling sederhana justru jadi hal yang paling penting saat kita sedang di luar rumah. Salah satunya adalah toilet umum. Mungkin terdengar sepele, tapi ketika sedang berada di perjalanan, di taman kota, atau di tempat ramai, toilet umum benar-benar dibutuhkan, apalagi bagi perempuan. Aku sendiri pernah berpikir kalau mencari toilet umum itu gampang. Tinggal masuk mall atau tempat makan. Tapi ternyata tidak selalu seperti itu. Ada saat ketika sedang berada di tempat yang belum familiar di Samarinda dan bingung mencari toilet umum terdekat. Kadang harus bertanya ke orang sekitar, kadang juga harus mutar cukup jauh hanya untuk menemukan toilet yang bisa dipakai.

Pentingnya Toilet Umum di Samarinda

Menurutku, toilet umum itu termasuk fasilitas penting yang sering kurang diperhatikan. Padahal keberadaannya sangat membantu banyak orang, terutama perempuan, anak kecil, dan orang yang sedang bepergian jauh. Selain mudah ditemukan, toilet umum juga sebaiknya bersih, aman, dan nyaman digunakan. Di Samarinda sendiri sebenarnya sudah ada cukup banyak toilet umum. Biasanya bisa ditemukan di pusat perbelanjaan, taman kota, rumah sakit, tempat ibadah, terminal, dan tempat wisata. Sayangnya, informasi tentang lokasi toilet umum itu belum semuanya tersedia di peta digital. Akibatnya, masih banyak orang yang kesulitan mencari toilet umum saat benar-benar membutuhkannya.

Mengenal OpenStreetMap

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Menelusuri Tepian Mahakam: Pemetaan Ruang Publik Aman untuk Perempuan di Samarinda

## Awal Ketertarikan terhadap Tepian Mahakam Tepian Mahakam merupakan salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Samarinda. Kawasan ini sering menjadi tempat berkumpul masyarakat, terutama pada sore hingga malam hari. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana Sungai Mahakam, berjalan santai di area pedestrian, maupun sekadar duduk bersama keluarga dan teman. Sebagai perempuan yang cukup sering mengunjungi kawasan ini, saya mulai memperhatikan bagaimana kondisi ruang publik di Tepian Mahakam. Apakah tempat ini benar-benar aman dan nyaman untuk perempuan? Pertanyaan tersebut muncul ketika saya melihat beberapa sudut kawasan yang masih minim penerangan serta fasilitas umum yang belum sepenuhnya lengkap. Dari rasa penasaran tersebut, saya mencoba melihat Tepian Mahakam dari sudut pandang berbeda melalui OpenStreetMap (OSM). Saya ingin memahami bagaimana pemetaan digital dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan responsif terhadap kebutuhan perempuan.

Mengamati Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan keamanan ruang publik untuk perempuan

Ruang menyusui jadi salah satu fasilitas penting di ruang publik karena bisa membuat ibu merasa lebih nyaman saat membawa bayi. Dengan adanya ruang khusus ini, ibu bisa menyusui dengan lebih tenang dan merasa lebih aman ketika berada di tempat umum.

Fasilitas ruang khusus menyusui

Jadi saya berpikir kalo pemetaan fasilitas ramah perempuan didalam mall juga penting dilakukan biar memudahkan ibu yang membawa bayi untuk bisa menyusui dengan nyaman, privasi, dan keberadaan ruang khusus menyusui ada di lantai Ground Floor (Lantai Dasar).

Gambar

Location: Pelabuhan, Samarinda Kota, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender.

Pemetaan fasilitas umum yang memperhatikan kebutuhan perempuan. Seperti keberadaan ruang yang layak pakai bagi perempuan.

Fasilitas Ramah Perempuan di Teras Samarinda Kalimatantan Timur

Teras Samarinda juga merupakan salah satu kawasan publik yang sering dikunjungi oleh penulis. Meskipun hanya sekedar melepas penat dan bersantai dengan teman dekatnya sambil menikmati pemandangan indah di sungai Mahakam.

Teras Samarinda merupakan salah satu kawasan ruang publik atau fasilitas umum dan menjadi ikon yang berada di kawasan tepian Sungai Mahakam Kota Samarinda. Kawasan Teras Samarinda ini menyediakan jalur pejalan kaki, panggung untuk menampilkan pentas seni, tempat duduk, area bersantai, serta ruang terbuka yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk melakukan kegiatan olahraga ataupun hanya sekedar bersantai, berkumpul sambil menikmati pemandangan Sungai Mahakam.

Fasilitas yang tersedia di teras samarinda cukup ramah bagi perempuan. Adanya jalur pedestrian yang cukup luas sehingga memudahkan perempuan terutama bagi ibu hamil, ibu yang memiliki anak atau pengguna stroller untuk berjalan dengan lebih nyaman. Teras Samarinda juga dilengkapi dengan fasilitas penerangan jalan dan area publik yang cukup baik pada malam hari dibeberapa titik sehingga pada malam hari cukup terang untuk meningkatkan rasa aman bagi pengunjung yang datang berkunjung pada saat malam hari. Tempat duduk dan ruang terbuka cukup banyak sehingga dapat digunakan keluarga ataupun teman untuk berkumpul sambil menikmati indahnya sunset yang berada di sisi sungai Mahakam.

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Perempuan di dalam dunia geospasial sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu. ada banyak pemeta perempuan lulusan universitas yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan pertambangan atau perusahaan kelapa sawit.

Namun, pada platform openstreetmap pemeta perempuan menurut perkumpulan openstreetmap jumlah nya masih jauh dibanding pemeta laki-laki. Padahal, peran perempuan dalam platform peta terbuka ini sangatlah penting. Mereka bisa mempertajam kelengkapan informasi attribut peta yang berhubungan dengan ruang lingkup gender perempuan.

Platform openstreetmap sendiri masih minim sekali dengan informasi spasial yang berkaitan dengan fasilitas-fasilitas perempuan seperti toilet ramah perempuan, ruang laktasi, halte bus aman perempuan dan lain sebagainya. Perempuan juga bisa membantu akurasi data menjadi lebih detail.

Hasil karya kita di platform osm ini juga akan terlihat oleh pemeta lainnya dari seluruh dunia. Hal inilah memungkinkan kesempatan kita mendapat jejaring yang sangat luas karena bisa memungkikan kita bertemu denngan pemeta perempuan lainnya dari lintas benua.

Menjadi pemeta perempuan di openstreetmap sangatlah tidak menyulitkan karena dasar-dasar editing peta di osm sangatlah mudah dan bisa dipelajari dengan waktu yang cukup singkat. Menjadi pemeta di osm juga bisa membuka peluan berjejaring dan bahkan peluang kerjasama. Karya kita pun akan dimanfaatkan dan akan bermanfaat bagi perempuan-perempuan lainnya yang menggunakan data tersebut. Bukan hal umum jika osm sudah digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar dan pemerintahan dari berbagai negara.

Oleh karena itu, tidak akan rugi jika kita mau mencoba menjadi pemeta di openstreetmap, khususnya untuk para perempuan dengan latar belakang pemeta atau latar belakang lainnya. Menjadi pemeta di osm sangatlah menyenangkan dan juga cukup mudah.

I live in Washington State and noticed that several main roads like state highways did not have a speed limit set. When I use OsmAnd or Organic Maps to navigate, those apps are guessing what the speed limits are for several roads, creating very bad guesses of how long a trip will take. Fuel-efficient routes also are not optimized unless max speeds for roads are known.

I discovered several awesome websites that make finding existing speed limits a breeze. I don’t like relying on Mapillary, even though they do an amazing job in making it easier to map speed limits. I just don’t want to support their owner Meta (Facebook).

Specifically for my state, I found this website: Washington https://geo.wa.gov/datasets/WSDOT::wsdot-roadway-data-speed-limits/explore?location=47.916813%2C-118.330518%2C15

Move your mouse over any state highway, click on it, and it shows you the speed limit for that road segment.

With this website, it makes finding the speed zones significantly easier. I don’t have to use Bing Streetside or Mapillary anymore because I rely on government data instead.

I also found other state websites and will list them now so they are all grouped together.

Virginia https://www.virginiaroads.org/maps/VDOT::vdot-speed-limits-map/explore?location=37.356725%2C-78.949534%2C12&path=

North Carolina https://www.arcgis.com/apps/mapviewer/index.html?layers=2229ffaa3ea5470992d021023618e1e6

Texas https://gis-txdot.opendata.arcgis.com/datasets/txdot-speed-limits/explore?location=33.705213%2C-100.174890%2C9

Florida https://gis-fdot.opendata.arcgis.com/datasets/fdot::maximum-speed-limit-tda/explore?location=27.792987%2C-83.778658%2C7

New York https://gis.dot.ny.gov/html5viewer/?viewer=risviewer

If we get more people to check major roads and update their speed limits, routing engines like OsmAnd, Organic Maps, GraphHopper, OSRM, and Valhalla will be able to create routes that are much faster, safer, and more fuel efficient.

See full entry

Location: Riverside, Spokane, Spokane County, Washington, 99201, United States

Keindahan yang Lahir dari Luka Alam

Sebuah perjalanan menyusuri Danau Biru Panca Jaya, tempat bekas tambang batu bara berubah menjadi danau hijau toska yang indah, sekaligus menyimpan cerita tentang perubahan bentang alam dan jejak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Ketika Lubang Tambang Berubah Menjadi Destinasi Wisata yang Memikat

*Awalnya saya mengetahui Danau Biru Panca Jaya dari media sosial. Warna airnya yang hijau toska terlihat sangat indah dan berbeda dari danau pada umumnya. Rasa penasaran membuat saya dan teman saya memutuskan untuk mengunjungi tempat tersebut saat akhir pekan.

*Perjalanan menuju lokasi terasa menyenangkan karena kami dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah bekas tambang dapat berubah menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Sesampainya di Danau Biru, saya benar-benar terkejut karena pemandangannya ternyata seindah yang ada di media sosial, bahkan terasa lebih menenangkan saat dilihat secara langsung.

  1. Di sekitar danau terdapat pepohonan yang membuat suasana menjadi sejuk dan berangin. Udara yang segar serta pemandangan air yang jernih membuat banyak pengunjung betah berlama-lama di sana. Di area wisata juga terdapat penjual makanan dan minuman, penyewaan ban untuk bermain di air, hingga jasa foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen. Suasana yang ramai membuat tempat ini terasa hidup dan menjadi salah satu destinasi menarik di Kutai Kartanegara.

  2. Namun, di balik keindahannya, saya kemudian mengetahui bahwa Danau Biru terbentuk dari bekas lubang tambang batu bara yang terisi air hujan selama bertahun-tahun. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa sebuah tempat dapat menyimpan dua cerita sekaligus: keindahan yang memikat dan jejak perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Dokumentasi Danau Biru Panca Jaya

See full entry

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteran Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba mengulik data nama-nama jalan di kawasan Jabodetabek dan menganalisnya untuk mengetahui mana jalan yang dinamai tokoh perempuan dan tokoh laki-laki.

Filosofis Nama Jalan

Nama jalan merupakan topik penting untuk dibicarakan. Menurut kajian onomastik dan geografi budaya, nama-nama jalan adalah penanda arah menuju sejarah dan sistem nilai suatu masyarakat atau “signpost to history” sehingga nama jalan bukan hanya sekadar alat navigasi. Jalan adalah identitas politik di berbagai konteks geokultural dan sejarah. Secara harafiah, nama jalan adalah simbolis penanaman nilai dominan suatau masyarakat, beserta ingatan sejarahnya, ke dalam lanskap (Rusu, 2022).

Mihai S. Rusu, sosiolog dari Lucian Blaga University of Sibiu, menyebutnya sebagai “topo-hegemonic masculinity” dimana kondisi dominasi laki-laki bukan hanya hidup dalam relasi sosial sehari-hari, tapi juga terukir secara harfiah ke dalam lanskap kota melalui pemberian nama jalan (Rusu, 2022). Penelitiannya di kota Sibiu, Romania, menemukan bahwa sepanjang kurun 1875 hingga 2020, hanya 4,70% dari nama-nama jalan eponimikal (yang merujuk pada seseorang) yang mengabadikan perempuan. Jabodetabek? Keadaannya tidak begitu berbeda.

Apa yang Ditemukan di Jabodetabek

Melalui 1.212 nama-nama jalan yang dianlisis telah ditemukan 242 nama-nama jalan eponimikal dengan proporsi sebagai berikut:

  1. Tokoh Laki-Laki: 224 nama jalan

  2. Tokoh Perempuan: 18 nama jalan

See full entry

Location: Mekarsari, Depok, Jawa Barat, Jawa, 16452, Indonesia
Posted by rphyrin on 22 May 2026 in English.

That day, I received this email.

19 May 2026 (1:19 PM): We would also like to invite you to a special mapathon as part of the OpenStreetMap Community Building activities in Syria. This activity aims to train participants on using the OpenStreetMap platform and contributing to mapping buildings and roads to support humanitarian work in Syria. Date: 22 May 2026. Time: 11:00 AM (Syria Time). Location: Online (meeting link will be sent after registration).

11:00 AM Syria time is about 3:00 PM in UTC+7.

So, this afternoon, I attended the online meeting.

After that, I joined the mapathon hosted on the HOT Tasking Manager.

Even though, in the presentation, the speaker conducted the mapathon using the iD editor in the browser, this time I preferred to use my set of “powertools”: JOSM, Draw Buildings (B), and LastUpdated.

See full entry

Ketika perempuan ikut memetakan lingkungan

Sebelum mengenal OpenStreetMap (OSM), saya mengira peta hanya digunakan untuk mencari jalan atau mengetahui lokasi suatu tempat. Saya tidak pernah berpikir bahwa masyarakat biasa juga bisa ikut membuat dan memperbarui peta. Setelah mengetahui lebih banyak tentang OSM, saya baru sadar bahwa siapa saja dapat berkontribusi, termasuk perempuan.

OpenStreetMap sebagai Wadah Berkontribusi

Perempuan, khususnya para ibu, biasanya lebih mengenal lokasi fasilitas yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti posyandu, sekolah, puskesmas, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatan warga. Karena sering berinteraksi dengan fasilitas tersebut, mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Informasi ini dapat membantu melengkapi data peta agar lebih akurat, lengkap, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Manfaat Keterlibatan Perempuan dalam Pemetaan

Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitarnya, seperti lokasi posyandu, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Karena itu, keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam pemetaan partisipatif.

Harapan untuk kedepannya

Saya berharap semakin banyak perempuan yang tertarik mengenal OpenStreetMap dan kegiatan pemetaan partisipatif. Dengan keterlibatan yang lebih luas, perempuan dapat berperan aktif dalam menyediakan informasi yang bermanfaat sekaligus menjadi bagian dari komunitas yang mendukung pengembangan data terbuka.

Perempuan dan Ruang Publik yang Aman

Saya sering jalan ke Teras Samarinda untuk jalan santai atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana Sungai Mahakam. Menurut saya, tempat ini nyaman dan aman untuk perempuan karena suasananya itu selalu ramai dan area nya terbuka sehingga tidak terasa sepi, terutama saat sore hingga malam hari. Selain itu, lampu penerangan di sekitar pedestrian juga cukup banyak sehingga membuat suasana tetap terang dan membuat saya merasa lebih aman ketika berada di sana pada malam hari.

Area jalan kaki dan tempat jogging di Teras Samarinda juga cukup luas sehingga pengunjung tidak terlalu berhimpitan atau berdesak-desakan saat berjalan. Saya biasanya duduk santai di bangku yang tersedia atau bersantai di area panggung yang sering digunakan untuk pertunjukan seni. Saya merasa nyaman dengan fasilitas toiletnya karena toilet perempuan dipisahkan dari toilet laki-laki dan berada dalam bilik tersendiri, sehingga sebagai perempuan saya merasa lebih nyaman dan aman saat menggunakan fasilitas umum di ruang publik. Beberapa fasilitas itu sering buat saya merasa nyaman dan aman ketika saya jelan jalan di teras.

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

I grew up in Nepal. Hills everywhere. Roads that don’t exist on any map. Communities that satellites can barely see through the cloud cover. When I first heard about OpenStreetMap, I thought: this is exactly what those places need.

That was a few years ago. Since then I’ve spent over 300 hours mapping, not because someone paid me to, but because I kept thinking about the person who might one day need that road to exist on a map before they could get help.

How I Started: Before I knew what OSM was, I was already messing around with maps, visiting new places, uploading photos to Google Maps, adding names, leaving notes about locations. I liked documenting places. That habit slowly turned into something bigger.

A hackathon in college introduced me to humanitarian mapping. That’s when it clicked: mapping wasn’t just a tech thing. It was about making communities visible.

My background is electrical engineering. My job is in the cable car sector. Neither screams “mapper.” But when you work in mountain infrastructure, you see how much depends on accurate geographic data, withdrawal routes, access to remote villages, disaster response. The gap between what exists on the ground and what exists on a map is sometimes jarring.

I’ve actually validated more tasks on HOT than I’ve mapped myself, which felt strange at first. But validation matters as much as mapping, maybe more. A wrong building polygon in a flood response map doesn’t help anyone.

On Women and Mapping: Most mapping events I’ve attended, online or in-person, are heavily male. So is the leadership in local OSM chapters. But whenever a woman shows up and starts contributing, the quality is often excellent. Careful, methodical, detail-oriented. And then they disappear. Not because they lost interest, usually because no one made space for them to stay.

See full entry

Location: Gaidakot-03, Gaindakot, Nawalpur District, Gandaki Province, Nepal

Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.

‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’

Saya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.

Beberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.

Rasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

See full entry

Location: Isola, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Una de las limitantes para actualizar el mapa de OSM en muchos lugares es la calidad y resolución de las imágenes. Aunque las imágenes por defecto de Bing o ESRI tienen una cobertura extensa, su resolución en algunos lugares es baja.

Ecuador es uno de esos casos. Y aunque esta no es la única razón que explica que el mapa no esté actualizado, es sin duda uno de los principales limitantes. No obstante, Ecuador cuenta con algunos recursos geoespaciales de calidad y disponibles para su uso. Uno de los más importantes, sin duda, son las ortofotografías del Instituto Geográfico Militar -IGM-.

Desade hace varios años, muchas de las imágenes y fotografías que toma el IGM son, por política nacional, información pública. El IGM pone a disposición estas imágenes a través de su geoportal a manera de servicios web. Aunque esta forma de distribución es lógica y coherente con la política nacional y los estándares internacionales, no es la más amigable con usuarios que no están familiarizados con estos sistemas.

See full entry

Location: Mariscal Sucre, Distrito Metropolitano de Quito, Pichincha, Ecuador