OpenStreetMap logo OpenStreetMap

Diary Entries in Indonesian

Recent diary entries

Gedung Wanita dalam Peta Kota

Beberapa minggu terakhir aku mulai sering memperhatikan fasilitas umum yang ada di Kota Samarinda. Biasanya aku hanya melihat bangunan-bangunan itu sebagai tempat biasa tanpa memikirkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Namun sejak mengenal OpenStreetMap dan mulai tertarik dengan dunia pemetaan, aku jadi lebih peka terhadap keberadaan fasilitas publik, terutama fasilitas yang berkaitan dengan perempuan. Salah satu tempat yang paling menarik perhatianku adalah Gedung Wanita. Awalnya aku hanya mengetahui Gedung Wanita sebagai bangunan yang digunakan untuk kegiatan pertemuan atau acara tertentu. Namun setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata gedung tersebut memiliki fungsi yang cukup penting bagi perempuan. Gedung Wanita sering digunakan sebagai tempat pelatihan, seminar, kegiatan organisasi perempuan, pemberdayaan masyarakat, hingga ruang berkumpul untuk berbagai kegiatan sosial.

Ketika melewati gedung itu, aku mulai berpikir bahwa keberadaan fasilitas seperti ini sebenarnya sangat penting untuk dipetakan. Banyak orang mungkin mengetahui nama gedungnya, tetapi tidak semua mengetahui lokasi tepatnya, akses menuju tempat tersebut, maupun fungsi yang tersedia di dalamnya. Di sinilah aku mulai memahami bahwa peta digital seperti OpenStreetMap dapat membantu masyarakat mengenali fasilitas umum dengan lebih mudah. Sebagai perempuan, aku merasa Gedung Wanita memiliki makna yang lebih dari sekadar bangunan fisik. Tempat itu menjadi simbol bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk berkembang, belajar, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Dalam beberapa kegiatan, gedung tersebut bahkan menjadi tempat pelatihan keterampilan bagi perempuan agar lebih mandiri secara ekonomi.

See full entry

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

OpenStreetMap memudahkan Pengguna

Awal mula Aku mengenal pemetaan adalah saat Aku sedang berkuliah di Universitas Mulawarman, jurusan Aku adalah Ilmu Lingkungan yang membuat Aku harus mempelajari soal pemetaan. Software pemetaan pertama yang Aku pelajari adalah Arcgis. Saat Aku semester tiga, terdapat mata kuliah Sistem Manajemen Lingkungan yang mewajibkan Aku untuk mempelajari Arcgis. Hal - hal yang Aku pelajari saat menggunakan Arcgis adalah dasar - dasar menggunakan Arcgis, peta curah hujan, dan peta tutupan lahan.

Saat Aku memasuki semester empat, terdapat mata kuliah Pengurangan Resiko Bencana, pada mata kuliah inilah Dosen Aku memperkenalkan Aku pada OpenStreetMap. Menurut aku OpenStreetMap sangat mudah digunakan untuk pemula, saat aku mempelajari OpenStreetMap dikelas aku sangat mudah memahami tiap langkah - langkah yang diberikan, dari membuat Titik, Area, dan Garis.

Setelah memahami konsep dan fitur yang ada pada OpenStreetMap, Aku mulai menjelajahi isi bangunan, jalan, dan area yang ada pada OpenStreetMap. Hal pertama yang Aku cari adalah jalan tembusan yang bisa digunakan untuk menuju tempat tujuan lebih cepat saat aku terlambat. Seperti Jalan Sambutan yang dapat digunakan sebagai jalur alternatif saat mau menuju ke Jembatan Mahkota biar lebih cepat.

Aku juga menemukan beberapa jalan buntu di OpenStreetMap agar tidak tersesat lagi saat menyusuri sebuah jalan. Di OpenStreetMap aku juga menemukan beberapa toilet umum yang bisa digunakan dengan gratis, salah satunya ada di beberapa Mushola yang bisa kita temukan di seluruh Wilayah Samarinda.

Menurut aku OpenStreetMap ini sangat memudahkan kita sebagai sesama mahluk sosial karena dengan adanya OpenStreetMap ini kita dapat membantu satu sama lain dengan memberikan nama jalan, nama gedung, dan nama area tertentu agar semua orang dapat mengetahuinya.

See full entry

Location: Simpang Pasir, Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

OpenStreetMap memudahkan perempuan mencari toilet umum

Fasilitas umum merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu fasilitas yang sering dianggap sederhana tetapi sangat dibutuhkan adalah toilet umum. Bagi perempuan, keberadaan toilet umum yang bersih, aman, dan mudah ditemukan tentu sangat membantu saat sedang berada di luar rumah. Melalui OpenStreetMap, masyarakat dapat ikut berkontribusi menambahkan informasi fasilitas umum agar lebih mudah diakses oleh semua orang.

Toilet Umum dan Kebutuhan Perempuan

Kadang hal paling sederhana justru jadi hal yang paling penting saat kita sedang di luar rumah. Salah satunya adalah toilet umum. Mungkin terdengar sepele, tapi ketika sedang berada di perjalanan, di taman kota, atau di tempat ramai, toilet umum benar-benar dibutuhkan, apalagi bagi perempuan. Aku sendiri pernah berpikir kalau mencari toilet umum itu gampang. Tinggal masuk mall atau tempat makan. Tapi ternyata tidak selalu seperti itu. Ada saat ketika sedang berada di tempat yang belum familiar di Samarinda dan bingung mencari toilet umum terdekat. Kadang harus bertanya ke orang sekitar, kadang juga harus mutar cukup jauh hanya untuk menemukan toilet yang bisa dipakai.

Pentingnya Toilet Umum di Samarinda

Menurutku, toilet umum itu termasuk fasilitas penting yang sering kurang diperhatikan. Padahal keberadaannya sangat membantu banyak orang, terutama perempuan, anak kecil, dan orang yang sedang bepergian jauh. Selain mudah ditemukan, toilet umum juga sebaiknya bersih, aman, dan nyaman digunakan. Di Samarinda sendiri sebenarnya sudah ada cukup banyak toilet umum. Biasanya bisa ditemukan di pusat perbelanjaan, taman kota, rumah sakit, tempat ibadah, terminal, dan tempat wisata. Sayangnya, informasi tentang lokasi toilet umum itu belum semuanya tersedia di peta digital. Akibatnya, masih banyak orang yang kesulitan mencari toilet umum saat benar-benar membutuhkannya.

Mengenal OpenStreetMap

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Menelusuri Tepian Mahakam: Pemetaan Ruang Publik Aman untuk Perempuan di Samarinda

## Awal Ketertarikan terhadap Tepian Mahakam Tepian Mahakam merupakan salah satu ruang publik yang cukup terkenal di Kota Samarinda. Kawasan ini sering menjadi tempat berkumpul masyarakat, terutama pada sore hingga malam hari. Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana Sungai Mahakam, berjalan santai di area pedestrian, maupun sekadar duduk bersama keluarga dan teman. Sebagai perempuan yang cukup sering mengunjungi kawasan ini, saya mulai memperhatikan bagaimana kondisi ruang publik di Tepian Mahakam. Apakah tempat ini benar-benar aman dan nyaman untuk perempuan? Pertanyaan tersebut muncul ketika saya melihat beberapa sudut kawasan yang masih minim penerangan serta fasilitas umum yang belum sepenuhnya lengkap. Dari rasa penasaran tersebut, saya mencoba melihat Tepian Mahakam dari sudut pandang berbeda melalui OpenStreetMap (OSM). Saya ingin memahami bagaimana pemetaan digital dapat membantu menciptakan ruang publik yang lebih aman dan responsif terhadap kebutuhan perempuan.

Mengamati Keamanan Ruang Publik untuk Perempuan

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pemetaan keamanan ruang publik untuk perempuan

Ruang menyusui jadi salah satu fasilitas penting di ruang publik karena bisa membuat ibu merasa lebih nyaman saat membawa bayi. Dengan adanya ruang khusus ini, ibu bisa menyusui dengan lebih tenang dan merasa lebih aman ketika berada di tempat umum.

Fasilitas ruang khusus menyusui

Jadi saya berpikir kalo pemetaan fasilitas ramah perempuan didalam mall juga penting dilakukan biar memudahkan ibu yang membawa bayi untuk bisa menyusui dengan nyaman, privasi, dan keberadaan ruang khusus menyusui ada di lantai Ground Floor (Lantai Dasar).

Gambar

Location: Pelabuhan, Samarinda Kota, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Pemetaan Fasilitas Umum Responsif Gender.

Pemetaan fasilitas umum yang memperhatikan kebutuhan perempuan. Seperti keberadaan ruang yang layak pakai bagi perempuan.

Fasilitas Ramah Perempuan di Teras Samarinda Kalimatantan Timur

Teras Samarinda juga merupakan salah satu kawasan publik yang sering dikunjungi oleh penulis. Meskipun hanya sekedar melepas penat dan bersantai dengan teman dekatnya sambil menikmati pemandangan indah di sungai Mahakam.

Teras Samarinda merupakan salah satu kawasan ruang publik atau fasilitas umum dan menjadi ikon yang berada di kawasan tepian Sungai Mahakam Kota Samarinda. Kawasan Teras Samarinda ini menyediakan jalur pejalan kaki, panggung untuk menampilkan pentas seni, tempat duduk, area bersantai, serta ruang terbuka yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk melakukan kegiatan olahraga ataupun hanya sekedar bersantai, berkumpul sambil menikmati pemandangan Sungai Mahakam.

Fasilitas yang tersedia di teras samarinda cukup ramah bagi perempuan. Adanya jalur pedestrian yang cukup luas sehingga memudahkan perempuan terutama bagi ibu hamil, ibu yang memiliki anak atau pengguna stroller untuk berjalan dengan lebih nyaman. Teras Samarinda juga dilengkapi dengan fasilitas penerangan jalan dan area publik yang cukup baik pada malam hari dibeberapa titik sehingga pada malam hari cukup terang untuk meningkatkan rasa aman bagi pengunjung yang datang berkunjung pada saat malam hari. Tempat duduk dan ruang terbuka cukup banyak sehingga dapat digunakan keluarga ataupun teman untuk berkumpul sambil menikmati indahnya sunset yang berada di sisi sungai Mahakam.

See full entry

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Perempuan di dalam dunia geospasial sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu. ada banyak pemeta perempuan lulusan universitas yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan pertambangan atau perusahaan kelapa sawit.

Namun, pada platform openstreetmap pemeta perempuan menurut perkumpulan openstreetmap jumlah nya masih jauh dibanding pemeta laki-laki. Padahal, peran perempuan dalam platform peta terbuka ini sangatlah penting. Mereka bisa mempertajam kelengkapan informasi attribut peta yang berhubungan dengan ruang lingkup gender perempuan.

Platform openstreetmap sendiri masih minim sekali dengan informasi spasial yang berkaitan dengan fasilitas-fasilitas perempuan seperti toilet ramah perempuan, ruang laktasi, halte bus aman perempuan dan lain sebagainya. Perempuan juga bisa membantu akurasi data menjadi lebih detail.

Hasil karya kita di platform osm ini juga akan terlihat oleh pemeta lainnya dari seluruh dunia. Hal inilah memungkinkan kesempatan kita mendapat jejaring yang sangat luas karena bisa memungkikan kita bertemu denngan pemeta perempuan lainnya dari lintas benua.

Menjadi pemeta perempuan di openstreetmap sangatlah tidak menyulitkan karena dasar-dasar editing peta di osm sangatlah mudah dan bisa dipelajari dengan waktu yang cukup singkat. Menjadi pemeta di osm juga bisa membuka peluan berjejaring dan bahkan peluang kerjasama. Karya kita pun akan dimanfaatkan dan akan bermanfaat bagi perempuan-perempuan lainnya yang menggunakan data tersebut. Bukan hal umum jika osm sudah digunakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar dan pemerintahan dari berbagai negara.

Oleh karena itu, tidak akan rugi jika kita mau mencoba menjadi pemeta di openstreetmap, khususnya untuk para perempuan dengan latar belakang pemeta atau latar belakang lainnya. Menjadi pemeta di osm sangatlah menyenangkan dan juga cukup mudah.

Keindahan yang Lahir dari Luka Alam

Sebuah perjalanan menyusuri Danau Biru Panca Jaya, tempat bekas tambang batu bara berubah menjadi danau hijau toska yang indah, sekaligus menyimpan cerita tentang perubahan bentang alam dan jejak aktivitas manusia terhadap lingkungan.

Ketika Lubang Tambang Berubah Menjadi Destinasi Wisata yang Memikat

*Awalnya saya mengetahui Danau Biru Panca Jaya dari media sosial. Warna airnya yang hijau toska terlihat sangat indah dan berbeda dari danau pada umumnya. Rasa penasaran membuat saya dan teman saya memutuskan untuk mengunjungi tempat tersebut saat akhir pekan.

*Perjalanan menuju lokasi terasa menyenangkan karena kami dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah bekas tambang dapat berubah menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi. Sesampainya di Danau Biru, saya benar-benar terkejut karena pemandangannya ternyata seindah yang ada di media sosial, bahkan terasa lebih menenangkan saat dilihat secara langsung.

  1. Di sekitar danau terdapat pepohonan yang membuat suasana menjadi sejuk dan berangin. Udara yang segar serta pemandangan air yang jernih membuat banyak pengunjung betah berlama-lama di sana. Di area wisata juga terdapat penjual makanan dan minuman, penyewaan ban untuk bermain di air, hingga jasa foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen. Suasana yang ramai membuat tempat ini terasa hidup dan menjadi salah satu destinasi menarik di Kutai Kartanegara.

  2. Namun, di balik keindahannya, saya kemudian mengetahui bahwa Danau Biru terbentuk dari bekas lubang tambang batu bara yang terisi air hujan selama bertahun-tahun. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa sebuah tempat dapat menyimpan dua cerita sekaligus: keindahan yang memikat dan jejak perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Dokumentasi Danau Biru Panca Jaya

See full entry

International Women’s Day 2026

Halo teman-teman OSM

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional. Yang pastinya dirayakan oleh seluruh dunia, maka dari itu saya mencari fasilitas atau tempat di mana perempuan dapat mengekspresikan dirinya tanpa merasa takut, terganggu, bahkan merasa dirinya tidak aman di ruang publik. Khususnya di kota yang dijuluki kota tepian, yaitu kota Samarinda di Kalimantan timur.

Salah satu fasilitas yang saya temukan dan familiar didengar oleh saya adalah Gedung PKK (Pemberdayaan Kesejahteran Keluarga). Gedung ini berisikan kaum perempuan, di sinilah keputusan-keputusan penting mengenai isu kesehatan anak, pelatihan ekonomi ibu rumah tangga, dan koordinasi kader posyandu dirumuskan. Selain itu, gedung ini juga menjadi wadah bagi perempuan yang ingin menambah penghasilan keluarga lewat pelatihan UMKM.

Gedung PKK adalah tempat pertama yang terlintas di pikiran saya sebagai fasilitas yang aman bagi perempuan. Karena, ibu saya sendiri aktif di organisasi masyarakat ini dan sering terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Beberapa kegiatan yang diadakan meliputi pelatihan UMKM (seperti festival tani lokal, bazar kerajinan dan bazar kuliner), gerakan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), posyandu, serta edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba mengulik data nama-nama jalan di kawasan Jabodetabek dan menganalisnya untuk mengetahui mana jalan yang dinamai tokoh perempuan dan tokoh laki-laki.

Filosofis Nama Jalan

Nama jalan merupakan topik penting untuk dibicarakan. Menurut kajian onomastik dan geografi budaya, nama-nama jalan adalah penanda arah menuju sejarah dan sistem nilai suatu masyarakat atau “signpost to history” sehingga nama jalan bukan hanya sekadar alat navigasi. Jalan adalah identitas politik di berbagai konteks geokultural dan sejarah. Secara harafiah, nama jalan adalah simbolis penanaman nilai dominan suatau masyarakat, beserta ingatan sejarahnya, ke dalam lanskap (Rusu, 2022).

Mihai S. Rusu, sosiolog dari Lucian Blaga University of Sibiu, menyebutnya sebagai “topo-hegemonic masculinity” dimana kondisi dominasi laki-laki bukan hanya hidup dalam relasi sosial sehari-hari, tapi juga terukir secara harfiah ke dalam lanskap kota melalui pemberian nama jalan (Rusu, 2022). Penelitiannya di kota Sibiu, Romania, menemukan bahwa sepanjang kurun 1875 hingga 2020, hanya 4,70% dari nama-nama jalan eponimikal (yang merujuk pada seseorang) yang mengabadikan perempuan. Jabodetabek? Keadaannya tidak begitu berbeda.

Apa yang Ditemukan di Jabodetabek

Melalui 1.212 nama-nama jalan yang dianlisis telah ditemukan 242 nama-nama jalan eponimikal dengan proporsi sebagai berikut:

  1. Tokoh Laki-Laki: 224 nama jalan

  2. Tokoh Perempuan: 18 nama jalan

See full entry

Location: Mekarsari, Depok, Jawa Barat, Jawa, 16452, Indonesia

Ketika perempuan ikut memetakan lingkungan

Sebelum mengenal OpenStreetMap (OSM), saya mengira peta hanya digunakan untuk mencari jalan atau mengetahui lokasi suatu tempat. Saya tidak pernah berpikir bahwa masyarakat biasa juga bisa ikut membuat dan memperbarui peta. Setelah mengetahui lebih banyak tentang OSM, saya baru sadar bahwa siapa saja dapat berkontribusi, termasuk perempuan.

OpenStreetMap sebagai Wadah Berkontribusi

Perempuan, khususnya para ibu, biasanya lebih mengenal lokasi fasilitas yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti posyandu, sekolah, puskesmas, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatan warga. Karena sering berinteraksi dengan fasilitas tersebut, mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Informasi ini dapat membantu melengkapi data peta agar lebih akurat, lengkap, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Manfaat Keterlibatan Perempuan dalam Pemetaan

Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitarnya, seperti lokasi posyandu, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Karena itu, keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam pemetaan partisipatif.

Harapan untuk kedepannya

Saya berharap semakin banyak perempuan yang tertarik mengenal OpenStreetMap dan kegiatan pemetaan partisipatif. Dengan keterlibatan yang lebih luas, perempuan dapat berperan aktif dalam menyediakan informasi yang bermanfaat sekaligus menjadi bagian dari komunitas yang mendukung pengembangan data terbuka.

Perempuan dan Ruang Publik yang Aman

Saya sering jalan ke Teras Samarinda untuk jalan santai atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana Sungai Mahakam. Menurut saya, tempat ini nyaman dan aman untuk perempuan karena suasananya itu selalu ramai dan area nya terbuka sehingga tidak terasa sepi, terutama saat sore hingga malam hari. Selain itu, lampu penerangan di sekitar pedestrian juga cukup banyak sehingga membuat suasana tetap terang dan membuat saya merasa lebih aman ketika berada di sana pada malam hari.

Area jalan kaki dan tempat jogging di Teras Samarinda juga cukup luas sehingga pengunjung tidak terlalu berhimpitan atau berdesak-desakan saat berjalan. Saya biasanya duduk santai di bangku yang tersedia atau bersantai di area panggung yang sering digunakan untuk pertunjukan seni. Saya merasa nyaman dengan fasilitas toiletnya karena toilet perempuan dipisahkan dari toilet laki-laki dan berada dalam bilik tersendiri, sehingga sebagai perempuan saya merasa lebih nyaman dan aman saat menggunakan fasilitas umum di ruang publik. Beberapa fasilitas itu sering buat saya merasa nyaman dan aman ketika saya jelan jalan di teras.

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.

‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’

Saya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.

Beberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.

Rasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

See full entry

Location: Isola, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Awalnya saya merasa bingung ketika hendak mengikuti perlombaan diary OSM terkait dengan tema yang diusung yaitu “Perempuan dan Pemetaan OpenStreetMap”. Sebagai seorang laki-laki, saya sempat mempertanyakan apa yang bisa saya tuliskan dari tema ini karena pengalaman laki-laki dengan perempuan tentu sangat berbeda dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah saya berpikir dan merenungkan ketika berada di ruang publik Kota Samarinda. lebih tepatnya di kawasan Taman Cerdas Samarinda, disini saya mulai memahami bahwa konsep, makna dan kegunaan dari sebuah peta itu bukan hanya meliputi jalan, bangunan ataupun titik lokasi melainkan tentang bagaimana manusia bisa merasakan ruang dalam kota tersebut.

Dari tempat ini saya melihat banyak sekali perempuan yang beraktivitas mulai dari seorang ibu yang membawa anaknya bermain, mahasiswi yang membaca buku hingga berdiskusi dengan teman sebaya nya dan juga perempuan yang menggunakan area tersebut untuk melakukan senam secara bersama-sama. Dari sini saya menyadari bahwa perempuan memiliki pengalaman yang berbeda dalam menggunakan akses ruang publik terutama terkait dengan rasa kenyamanan, aman serta fasilitas yang tersedia.

Dengan melalui OpenStreetMap saya melihat dan memaknai bahwa pemetaan dapat menjadi media untuk menghadirkan ruang kota yang lebih inklusif. Informasi seperti halnya penerangan jalan. jalur pejalan kaki hingga akses menuju taman dapat menjadi data penting bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke suatu tempat. Hal-hal kecil yang sering dianggap biasa ternyata sangat berpengaruh terhadap kenyamanan perempuan saat berada di ruang publik. Sebagai contoh, jalur menuju taman yang minim penerangan terutama pada sore dan malam hari. Oleh karena itu, OpenStreetMap bukan hanya berfungsi sebagai peta digital tetapi juga sebagai ruang kolaborasi masyarakat untuk mendokumentasikan kebutuhan lingkungan perkotaan secara lebih manusiawi.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Ada sedikit cerita tentang hal buruk yang saya alami waktu beraktivitas di jalan raya. Tahun 2015 klas1 SMA, jalan menuju sekolah ada kejadian tidak mengenakkan, saya mengalami kontak fisik dengan orang yang tidak saya kenal, itu terjadi di jalan raya dan sekitar 2 meter dari rumah saya, dimana ada 5 orang dan 2 dari mereka melakukan kontak fisik kepada saya, tanpa izin saya. Saya kembali pulang kerumah dengan keadaan menangis. Ketika saya kasih tau orangtua saya, mama saya langsung pergi cari orang-orang itu, dan menjeput saya di sekolah. Ada salah satu teman saya perempuan juga, yang menormalisasikan perbuatan tersebut dan berkata itu hanya memengan tanggan saja. Apakah saya yang terlalu berlebihan? Tapi itu tempat umum mereka berani, bagimana dengan tempat sepi, apakah mereka tidak akan berbuat lebih dari itu? Oleh karena itu, pemetaan jalan aman bagi perempuan sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan publik yang lebih aman, nyaman, dan inklusif. Pemetaan ini membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dianggap rawan, minim penerangan, sepi, atau memiliki risiko terjadinya pelecehan dan tindak kekerasan. Dengan adanya pemetaan, pemerintah, komunitas, maupun masyarakat dapat mengetahui area yang memerlukan perhatian dan perbaikan. Selain fasilitas fisik, kesadaran masyarakat juga sangat penting. Lingkungan yang saling peduli, menghormati, dan berani membantu korban dapat meningkatkan rasa aman di ruang publik. Pemerintah, komunitas, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan ramah bagi semua orang, terutama perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang lebih rentan terhadap risiko di tempat publik.

Location: Has Laran, Dom Aleixo, Dili, Timor Leste

An image: gras

GPS handle (handheld GPS) tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai alat ukur utama Ground Control Point (GCP) pada pemetaan drone atau fotogrametri yang membutuhkan akurasi tinggi. Meskipun GPS handle dapat merekam koordinat, tingkat ketelitiannya hanya dalam hitungan meter (rendah), sedangkan GCP memerlukan ketelitian sentimeter.

Mengapa GPS Handle Kurang Tepat untuk GCP?

  • Akurasi Rendah: GPS handheld (seperti Garmin seri 64/66) menghasilkan kesalahan posisi hingga 1-5 meter, yang akan merusak hasil akurasi peta foto udara.
  • Standar Pemetaan: Pengukuran GCP wajib menggunakan GPS Geodetik/GNSS (RTK/PPK) untuk mencapai ketelitian sentimeter.

Kapan GPS Handle Bisa Digunakan?

  • Pemetaan Skala Kecil/Tingkat Akurasi Rendah: Jika pemetaan hanya untuk visualisasi umum dan tidak membutuhkan akurasi geometris yang ketat.
  • Titik Bantu: Sebagai titik acuan awal, namun hasil foto udara tetap memerlukan koreksi manual yang intensif.
Rekomendasi Alat:

See full entry

Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pada peringatan ini pula, banyak hal yang perlu direfleksikan terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Salah satunya, apakah fasilitas umum di perkotaan sudah ramah manusia, khususnya perempuan?

Sejak Maret 2026, saya mengikuti kampanye Jalanin Aja Dulu (JAD) yang diselenggarakan oleh lakunakota di Cekungan Bandung. Pada kampanye tersebut, partisipan didorong untuk berjalan kaki sejauh 2,5 km setiap harinya untuk melatih budaya mobilitas dengan berjalan kaki. Saya memanfaatkan momen ini untuk memetakan dan menilai kondisi infrastruktur pejalan kaki yang saya lalui ke OpenStreetMap (OSM).

Metode

Pemetaan saya lakukan sambil berjalan kaki dengan pace antara 9’00” (berarti 9 menit per kilometer) hingga 20’00”, rentang pace yang ditetapkan dalam kampanye JAD. Saya menggunakan aplikasi StreetComplete untuk mendata banyak objek, seperti keberadaan trotoar, penerangan, menambahkan fasilitas umum, dan menambahkan catatan untuk hal-hal yang kompleks. Setelah itu, saya berusaha merapikan pemetaan yang saya lakukan sebelumnya menggunakan desktop iD Editor.

Saya biasanya berjalan kaki di sekitar Jalan Dago, Kota Bandung. Terkadang saya juga berjalan kaki di tempat lain yang familiar, seperti Kota Baru Parahyangan dan Jalan Buah Batu. Tak jarang pula saya memutuskan untuk berjalan kaki di tempat-tempat yang belum pernah saya lalui, seperti Baros di Cimahi atau gang-gang sempit di tengah Kota Bandung untuk mendapatkan sensasi tersendiri. Selain itu, sebagian sesi berjalan kaki saya lakukan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, menambah relevansi data yang saya dapat dengan ruang aman perempuan di jalan.

Keberadaan trotoar

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Kontribusi Perempuan dalam Pemetaan Dunia

Keberadaan perempuan di dunia kartografi dan pemetaan saat ini semakin terlihat dan jumlahnya terus bertambah. Kontribusi mereka memberikan nilai yang sangat berharga bagi perkembangan data geospasial. Meski demikian, dalam dunia pemetaan sukarela seperti OpenStreetMap (OSM), jumlah pemeta perempuan masih lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Padahal, peran pemeta perempuan sangat krusial untuk meningkatkan inklusivitas data, terutama dalam melengkapi informasi fasilitas publik yang spesifik bagi perempuan, seperti ruang laktasi dan toilet umum.

Dasar-Dasar Pemetaan di OpenStreetMap Sebelum mulai berkontribusi, ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami agar data yang dihasilkan akurat dan bermanfaat:

Konsep Objek di OSM:

  • Titik (Nodes): Menandai lokasi spesifik.
  • Garis (Ways): Untuk objek seperti jalan atau sungai.
  • Area (Poligon): Untuk batas bangunan, taman, atau wilayah.
  • Relasi (Relations): Untuk menghubungkan objek-objek yang kompleks.

Sistem Tagging (Atribut Data): Pemberian label informasi pada setiap objek.

Sumber Data yang Legal:

  • Citra Satelit yang diizinkan.
  • Survei Lapangan langsung.
  • Data Pemerintah yang bersifat terbuka.

Alat Pemetaan (Editor):

  • A list item with additional text
  • iD Editor (Berbasis web, ramah pemula).
  • JOSM (Untuk penyuntingan tingkat lanjut).
  • StreetComplete (Aplikasi seluler untuk pemetaan praktis).

Hal Penting Sebelum Melakukan Digitasi Kemampuan membedakan objek seperti jalan, bangunan, badan air, dan vegetasi adalah inti dari interpretasi citra. Tanpa kemampuan identifikasi yang tepat, data hasil digitasi tidak akan memiliki nilai informasi yang benar. Terakhir, diperlukan kerelaan hati dalam memetakan. Tujuan utama OpenStreetMap adalah menciptakan basis data peta dunia yang gratis, terbuka, dan kolaboratif. Ingatlah bahwa kontribusi ini bersifat sukarela tanpa imbalan materi, namun sangat berdampak besar bagi kemanusiaan dan akses informasi dunia.

See full entry

Location: Sumberagung, Krecek, Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jawa, 64219, Indonesia