Diary Entries in Indonesian

Recent diary entries

Apabila kita memperhatikan jalan yang kita lewati setiap hari, pasti ada terlintas pertanyaan dalam benak kita, “siapa tokoh yang diabadikan di jalan ini? apa alasannya? Toponomi jalan bukanlah sekadar penanda lokasi, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam, yakni tentang bagaimana suatu kota memutuskan siapa yang berhak untuk terus diabadikan.

Pada tulisan ini, saya akan mencoba mengulik data nama-nama jalan di kawasan Jabodetabek dan menganalisnya untuk mengetahui mana jalan yang dinamai tokoh perempuan dan tokoh laki-laki.

Filosofis Nama Jalan

Nama jalan merupakan topik penting untuk dibicarakan. Menurut kajian onomastik dan geografi budaya, nama-nama jalan adalah penanda arah menuju sejarah dan sistem nilai suatu masyarakat atau “signpost to history” sehingga nama jalan bukan hanya sekadar alat navigasi. Jalan adalah identitas politik di berbagai konteks geokultural dan sejarah. Secara harafiah, nama jalan adalah simbolis penanaman nilai dominan suatau masyarakat, beserta ingatan sejarahnya, ke dalam lanskap (Rusu, 2022).

Mihai S. Rusu, sosiolog dari Lucian Blaga University of Sibiu, menyebutnya sebagai “topo-hegemonic masculinity” dimana kondisi dominasi laki-laki bukan hanya hidup dalam relasi sosial sehari-hari, tapi juga terukir secara harfiah ke dalam lanskap kota melalui pemberian nama jalan (Rusu, 2022). Penelitiannya di kota Sibiu, Romania, menemukan bahwa sepanjang kurun 1875 hingga 2020, hanya 4,70% dari nama-nama jalan eponimikal (yang merujuk pada seseorang) yang mengabadikan perempuan. Jabodetabek? Keadaannya tidak begitu berbeda.

Apa yang Ditemukan di Jabodetabek

Melalui 1.212 nama-nama jalan yang dianlisis telah ditemukan 242 nama-nama jalan eponimikal dengan proporsi sebagai berikut:

  1. Tokoh Laki-Laki: 224 nama jalan

  2. Tokoh Perempuan: 18 nama jalan

See full entry

Location: Mekarsari, Depok, Jawa Barat, Jawa, 16452, Indonesia

Ketika perempuan ikut memetakan lingkungan

Sebelum mengenal OpenStreetMap (OSM), saya mengira peta hanya digunakan untuk mencari jalan atau mengetahui lokasi suatu tempat. Saya tidak pernah berpikir bahwa masyarakat biasa juga bisa ikut membuat dan memperbarui peta. Setelah mengetahui lebih banyak tentang OSM, saya baru sadar bahwa siapa saja dapat berkontribusi, termasuk perempuan.

OpenStreetMap sebagai Wadah Berkontribusi

Perempuan, khususnya para ibu, biasanya lebih mengenal lokasi fasilitas yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti posyandu, sekolah, puskesmas, tempat ibadah, maupun lokasi kegiatan warga. Karena sering berinteraksi dengan fasilitas tersebut, mereka memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi lingkungan sekitar. Informasi ini dapat membantu melengkapi data peta agar lebih akurat, lengkap, dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Manfaat Keterlibatan Perempuan dalam Pemetaan

Menurut saya, perempuan memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkungan sekitarnya, seperti lokasi posyandu, sekolah, fasilitas kesehatan, dan berbagai kegiatan warga. Informasi tersebut sangat bermanfaat untuk melengkapi data peta agar lebih akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Karena itu, keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam pemetaan partisipatif.

Harapan untuk kedepannya

Saya berharap semakin banyak perempuan yang tertarik mengenal OpenStreetMap dan kegiatan pemetaan partisipatif. Dengan keterlibatan yang lebih luas, perempuan dapat berperan aktif dalam menyediakan informasi yang bermanfaat sekaligus menjadi bagian dari komunitas yang mendukung pengembangan data terbuka.

Perempuan dan Ruang Publik yang Aman

Saya sering jalan ke Teras Samarinda untuk jalan santai atau sekadar duduk-duduk menikmati suasana Sungai Mahakam. Menurut saya, tempat ini nyaman dan aman untuk perempuan karena suasananya itu selalu ramai dan area nya terbuka sehingga tidak terasa sepi, terutama saat sore hingga malam hari. Selain itu, lampu penerangan di sekitar pedestrian juga cukup banyak sehingga membuat suasana tetap terang dan membuat saya merasa lebih aman ketika berada di sana pada malam hari.

Area jalan kaki dan tempat jogging di Teras Samarinda juga cukup luas sehingga pengunjung tidak terlalu berhimpitan atau berdesak-desakan saat berjalan. Saya biasanya duduk santai di bangku yang tersedia atau bersantai di area panggung yang sering digunakan untuk pertunjukan seni. Saya merasa nyaman dengan fasilitas toiletnya karena toilet perempuan dipisahkan dari toilet laki-laki dan berada dalam bilik tersendiri, sehingga sebagai perempuan saya merasa lebih nyaman dan aman saat menggunakan fasilitas umum di ruang publik. Beberapa fasilitas itu sering buat saya merasa nyaman dan aman ketika saya jelan jalan di teras.

Location: Jawa, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, Indonesia

Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.

‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’

Saya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.

Beberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.

Rasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

See full entry

Location: Isola, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Awalnya saya merasa bingung ketika hendak mengikuti perlombaan diary OSM terkait dengan tema yang diusung yaitu “Perempuan dan Pemetaan OpenStreetMap”. Sebagai seorang laki-laki, saya sempat mempertanyakan apa yang bisa saya tuliskan dari tema ini karena pengalaman laki-laki dengan perempuan tentu sangat berbeda dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah saya berpikir dan merenungkan ketika berada di ruang publik Kota Samarinda. lebih tepatnya di kawasan Taman Cerdas Samarinda, disini saya mulai memahami bahwa konsep, makna dan kegunaan dari sebuah peta itu bukan hanya meliputi jalan, bangunan ataupun titik lokasi melainkan tentang bagaimana manusia bisa merasakan ruang dalam kota tersebut.

Dari tempat ini saya melihat banyak sekali perempuan yang beraktivitas mulai dari seorang ibu yang membawa anaknya bermain, mahasiswi yang membaca buku hingga berdiskusi dengan teman sebaya nya dan juga perempuan yang menggunakan area tersebut untuk melakukan senam secara bersama-sama. Dari sini saya menyadari bahwa perempuan memiliki pengalaman yang berbeda dalam menggunakan akses ruang publik terutama terkait dengan rasa kenyamanan, aman serta fasilitas yang tersedia.

Dengan melalui OpenStreetMap saya melihat dan memaknai bahwa pemetaan dapat menjadi media untuk menghadirkan ruang kota yang lebih inklusif. Informasi seperti halnya penerangan jalan. jalur pejalan kaki hingga akses menuju taman dapat menjadi data penting bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke suatu tempat. Hal-hal kecil yang sering dianggap biasa ternyata sangat berpengaruh terhadap kenyamanan perempuan saat berada di ruang publik. Sebagai contoh, jalur menuju taman yang minim penerangan terutama pada sore dan malam hari. Oleh karena itu, OpenStreetMap bukan hanya berfungsi sebagai peta digital tetapi juga sebagai ruang kolaborasi masyarakat untuk mendokumentasikan kebutuhan lingkungan perkotaan secara lebih manusiawi.

Location: Gunung Kelua, Samarinda Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, Kalimantan, 75123, Indonesia

Ada sedikit cerita tentang hal buruk yang saya alami waktu beraktivitas di jalan raya. Tahun 2015 klas1 SMA, jalan menuju sekolah ada kejadian tidak mengenakkan, saya mengalami kontak fisik dengan orang yang tidak saya kenal, itu terjadi di jalan raya dan sekitar 2 meter dari rumah saya, dimana ada 5 orang dan 2 dari mereka melakukan kontak fisik kepada saya, tanpa izin saya. Saya kembali pulang kerumah dengan keadaan menangis. Ketika saya kasih tau orangtua saya, mama saya langsung pergi cari orang-orang itu, dan menjeput saya di sekolah. Ada salah satu teman saya perempuan juga, yang menormalisasikan perbuatan tersebut dan berkata itu hanya memengan tanggan saja. Apakah saya yang terlalu berlebihan? Tapi itu tempat umum mereka berani, bagimana dengan tempat sepi, apakah mereka tidak akan berbuat lebih dari itu? Oleh karena itu, pemetaan jalan aman bagi perempuan sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan publik yang lebih aman, nyaman, dan inklusif. Pemetaan ini membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dianggap rawan, minim penerangan, sepi, atau memiliki risiko terjadinya pelecehan dan tindak kekerasan. Dengan adanya pemetaan, pemerintah, komunitas, maupun masyarakat dapat mengetahui area yang memerlukan perhatian dan perbaikan. Selain fasilitas fisik, kesadaran masyarakat juga sangat penting. Lingkungan yang saling peduli, menghormati, dan berani membantu korban dapat meningkatkan rasa aman di ruang publik. Pemerintah, komunitas, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan ramah bagi semua orang, terutama perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang lebih rentan terhadap risiko di tempat publik.

Location: Has Laran, Dom Aleixo, Dili, Timor Leste

An image: gras

GPS handle (handheld GPS) tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai alat ukur utama Ground Control Point (GCP) pada pemetaan drone atau fotogrametri yang membutuhkan akurasi tinggi. Meskipun GPS handle dapat merekam koordinat, tingkat ketelitiannya hanya dalam hitungan meter (rendah), sedangkan GCP memerlukan ketelitian sentimeter.

Mengapa GPS Handle Kurang Tepat untuk GCP?

  • Akurasi Rendah: GPS handheld (seperti Garmin seri 64/66) menghasilkan kesalahan posisi hingga 1-5 meter, yang akan merusak hasil akurasi peta foto udara.
  • Standar Pemetaan: Pengukuran GCP wajib menggunakan GPS Geodetik/GNSS (RTK/PPK) untuk mencapai ketelitian sentimeter.

Kapan GPS Handle Bisa Digunakan?

  • Pemetaan Skala Kecil/Tingkat Akurasi Rendah: Jika pemetaan hanya untuk visualisasi umum dan tidak membutuhkan akurasi geometris yang ketat.
  • Titik Bantu: Sebagai titik acuan awal, namun hasil foto udara tetap memerlukan koreksi manual yang intensif.
Rekomendasi Alat:

See full entry

Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pada peringatan ini pula, banyak hal yang perlu direfleksikan terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Salah satunya, apakah fasilitas umum di perkotaan sudah ramah manusia, khususnya perempuan?

Sejak Maret 2026, saya mengikuti kampanye Jalanin Aja Dulu (JAD) yang diselenggarakan oleh lakunakota di Cekungan Bandung. Pada kampanye tersebut, partisipan didorong untuk berjalan kaki sejauh 2,5 km setiap harinya untuk melatih budaya mobilitas dengan berjalan kaki. Saya memanfaatkan momen ini untuk memetakan dan menilai kondisi infrastruktur pejalan kaki yang saya lalui ke OpenStreetMap (OSM).

Metode

Pemetaan saya lakukan sambil berjalan kaki dengan pace antara 9’00” (berarti 9 menit per kilometer) hingga 20’00”, rentang pace yang ditetapkan dalam kampanye JAD. Saya menggunakan aplikasi StreetComplete untuk mendata banyak objek, seperti keberadaan trotoar, penerangan, menambahkan fasilitas umum, dan menambahkan catatan untuk hal-hal yang kompleks. Setelah itu, saya berusaha merapikan pemetaan yang saya lakukan sebelumnya menggunakan desktop iD Editor.

Saya biasanya berjalan kaki di sekitar Jalan Dago, Kota Bandung. Terkadang saya juga berjalan kaki di tempat lain yang familiar, seperti Kota Baru Parahyangan dan Jalan Buah Batu. Tak jarang pula saya memutuskan untuk berjalan kaki di tempat-tempat yang belum pernah saya lalui, seperti Baros di Cimahi atau gang-gang sempit di tengah Kota Bandung untuk mendapatkan sensasi tersendiri. Selain itu, sebagian sesi berjalan kaki saya lakukan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, menambah relevansi data yang saya dapat dengan ruang aman perempuan di jalan.

Keberadaan trotoar

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Kontribusi Perempuan dalam Pemetaan Dunia

Keberadaan perempuan di dunia kartografi dan pemetaan saat ini semakin terlihat dan jumlahnya terus bertambah. Kontribusi mereka memberikan nilai yang sangat berharga bagi perkembangan data geospasial. Meski demikian, dalam dunia pemetaan sukarela seperti OpenStreetMap (OSM), jumlah pemeta perempuan masih lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Padahal, peran pemeta perempuan sangat krusial untuk meningkatkan inklusivitas data, terutama dalam melengkapi informasi fasilitas publik yang spesifik bagi perempuan, seperti ruang laktasi dan toilet umum.

Dasar-Dasar Pemetaan di OpenStreetMap Sebelum mulai berkontribusi, ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami agar data yang dihasilkan akurat dan bermanfaat:

Konsep Objek di OSM:

  • Titik (Nodes): Menandai lokasi spesifik.
  • Garis (Ways): Untuk objek seperti jalan atau sungai.
  • Area (Poligon): Untuk batas bangunan, taman, atau wilayah.
  • Relasi (Relations): Untuk menghubungkan objek-objek yang kompleks.

Sistem Tagging (Atribut Data): Pemberian label informasi pada setiap objek.

Sumber Data yang Legal:

  • Citra Satelit yang diizinkan.
  • Survei Lapangan langsung.
  • Data Pemerintah yang bersifat terbuka.

Alat Pemetaan (Editor):

  • A list item with additional text
  • iD Editor (Berbasis web, ramah pemula).
  • JOSM (Untuk penyuntingan tingkat lanjut).
  • StreetComplete (Aplikasi seluler untuk pemetaan praktis).

Hal Penting Sebelum Melakukan Digitasi Kemampuan membedakan objek seperti jalan, bangunan, badan air, dan vegetasi adalah inti dari interpretasi citra. Tanpa kemampuan identifikasi yang tepat, data hasil digitasi tidak akan memiliki nilai informasi yang benar. Terakhir, diperlukan kerelaan hati dalam memetakan. Tujuan utama OpenStreetMap adalah menciptakan basis data peta dunia yang gratis, terbuka, dan kolaboratif. Ingatlah bahwa kontribusi ini bersifat sukarela tanpa imbalan materi, namun sangat berdampak besar bagi kemanusiaan dan akses informasi dunia.

See full entry

Location: Sumberagung, Krecek, Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jawa, 64219, Indonesia

Ungkapan bahwa kehidupan itu “kadang naik kadang turun, kadang kaya kadang miskin” adalah metafora roda kehidupan yang terus berputar. Ini menggambarkan fluktuasi nasib manusia yang tidak abadi, di mana seseorang tidak selamanya berada di atas (sukses/bahagia) atau di bawah (terpuruk/kesusahan). 1. Filosofi Roda BerputarKetidakabadian: Situasi saat ini, baik itu kejayaan maupun kesulitan, adalah sementara.Ujian Kehidupan: Kaya dan miskin adalah bentuk ujian untuk melihat siapa yang bersyukur dan bersabar.Perubahan Nasib: Seseorang yang hari ini kaya bisa saja jatuh miskin, dan sebaliknya, yang miskin bisa menjadi kaya.

  1. Sikap Saat di “Atas” (Kaya/Sukses)Tidak Sombong: Jangan merasa angkuh atau lupa diri karena posisi bisa berubah kapan saja.Berbagi & Bersyukur: Kekayaan adalah kesempatan untuk berderma dan membantu sesama.Tetap Membumi: Sadar bahwa semua hanyalah titipan.

  2. Sikap Saat di “Bawah” (Miskin/Terpuruk)Bersabar & Tegar: Tidak putus asa karena kesulitan adalah bagian dari proses pendewasaan diri.Berusaha & Berdoa: Tetap berjuang karena roda akan berputar kembali.Fokus pada Solusi: Orang dengan mental tangguh akan mencari peluang, bukan meratapi keadaan.

  3. Hikmah di Balik Perputaran Keseimbangan: Adanya kaya dan miskin diciptakan agar roda kehidupan berputar dan manusia saling membutuhkan.Pembelajaran: Pengalaman di titik terendah seringkali melahirkan ketangguhan dan kerendahan hati.Ketenangan Hati: Memahami bahwa “semua akan berlalu” membuat seseorang lebih tenang menghadapi penderitaan.

Secara ringkas, kunci menghadapi roda kehidupan yang berputar adalah bersyukur saat berada di atas, dan bersabar saat berada di bawah.

Location: Pancaran, Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jawa, 64211, Indonesia

Kontribusi Wanita dalam Pemetaan Terbuka Level Street View

Peran wanita dalam dunia professional selama ini sering kali dianggap remeh oleh beberapa orang. Hal ini dikarenakan oleh adanya stigma bahwa wanita baiknya menjadi ibu rumah tangga mengurus anak dan permasalahan rumah tangga. Sebaliknya tugas pria adalah mencari nafkah dan pundi-pundi uang untuk keberlanjutan keluarga. Namun, di zaman modern ini pandangan seperti itu sudah dianggap kuno dan kurang relevan semenjak banyaknya teknologi yang telah dikembangkan untuk mempermudah wanita dalam beraktivitas seperti pria. Apalagi sudah banyak perkerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh wanita.

Dalam dunia survey lapangan, pandangan orang pada saat ini pun masih berkutat bahwa ini adalah pekerjaan yang berat dan lebih cocok dikerjakan oleh pria dibanding wanita. Tetapi Pandangan seperti itu pun sepertinya sudah banyak terbantahkan oleh beberapa wanita yang ikut banyak terjun ke dunia survey dan hasil kinerja mereka sangat baik tidak kalah dari kinerja yang dilakukan oleh pria.

See full entry

Location: Sukawana, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, Jawa, 40551, Indonesia

Seperti yang kita ketahui, perempuan sering menjadi sasaran tindak kejahatan, baik dari orang di sekitar maupun dari orang yang tidak dikenal, terutama di ruang publik. Kondisi ini menyebabkan perempuan sering merasa tidak aman saat berada di jalan, menggunakan transportasi, maupun di tempat umum lainnya, baik pada siang maupun malam hari. Terjadinya aksi kejahatan itu, dipicu oleh kurangnya imformasi mengenai wilayah yang aman, dan wilayah yang tidak aman, minimnya penerangan jalan, serta kurangnya pengawasan di beberapa lokasi semakin meningkatkan risiko yang dihadapi perempuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang terarah melalui peningkatan keamanan, penyediaan informasi yang akurat, serta pemanfaatan pemetaan digital menggunakan OpenStreetMap, kegiatan ini meliputi identifikasi area yang aman, dan area yang beresiko akan munculnya tindak kejahatan.

Location: Mota Ulun Oeste, Nain Feto, Dili, Timor Leste

Saya sedang memulai proyek untuk menambahkan tag name:id pada objek place=* di wilayah Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara. Tujuannya adalah mempermudah pengguna Indonesia dalam mencari dan mengenali nama tempat di Asia Timur sesuai dengan ejaan dan istilah administratif yang lazim (seperti Prefektur dan Provinsi).

Untuk saat ini, penyuntingan hanya dilakukan pada level Node. Objek berupa Relation (seperti batas administrasi) belum termasuk dalam cakupan kerja saya saat ini karena batasan workflow teknis.


Localizing place names (name:id) in Japan and the Koreas

I am starting a project to add the name:id tag to place=* objects in the Japan, South Korea, and North Korea regions. The purpose is to assist Indonesian users in searching for and recognizing place names in East Asia according to common spellings and administrative terms (such as Prefecture and Province).

For now, editing is only being performed at the Node level. Relation objects (such as administrative boundaries) are not yet included in my current scope of work due to technical workflow limitations.

Posted by adigis on 15 April 2026 in Indonesian (Bahasa Indonesia). Last updated on 19 April 2026.

Membantu orang hendaknya ikhlas, dan tidak mengharap pujian atau apresiasi dari orang lain. Bantulah dengan bantuan yang terbaik. Dan tidak perlu kita mengungkit-ungkit bantuan yang kita berikan, berharap balasan dari ALLAH subhanahu wata’ala semata. Caranya mudah, bantuan yang engkau berikan itu ibarat yang engkau keluarkan dipagi hari. Dengan begitu engkau akan lupa, tidak ingat bantuan apa yang telah engkau berikan kepada orang lain

Alt text

Memetakan batas administrasi di Indonesia bisa jadi cukup rumit, terutama saat menghadapi nama wilayah yang serupa. Berikut adalah alur kerja (workflow) sederhana saya dalam menyiapkan data tersebut:

1. Sumber Data

Pertama, unduh data spasial resmi dari Peta Rupa Bumi oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) atau mencari di Satu Data Indonesia. Data ini berfungsi sebagai sumber geometri utama.

2. Ekstraksi Titik Lokasi (Place Nodes)

Karena data sumber berbentuk poligon, saya menggunakan QGIS untuk mengekstrak titik tengah (centroid). Titik-titik ini penting untuk membuat tag place=* yang mewakili pusat dari tiap wilayah administrasi.

3. Pentingnya Kode Kemendagri

Poligon tersebut mencakup kode referensi Kemendagri. Kode ini sangat vital untuk:

  • Konflasi: Memastikan data cocok dengan set data lainnya.

  • Identifikasi: Banyak desa (admin_level 7 atau 8) memiliki nama yang sama. Kode ini membantu membedakannya dalam satu Kabupaten atau Provinsi.

4. Pengayaan Metadata

Menggunakan alat spreadsheet dan teknik konflasi, saya mencocokkan data untuk menambahkan:

  • Kode pos

  • Tag wikidata dan wikipedia.

  • Nama dalam berbagai bahasa (name:en, dsb).

5. Pengolahan Geometri

Sesuai dengan praktik terbaik (best practices) di OSM, saya mengubah poligon menjadi garis terpisah (polylines).

  • Hal ini memungkinkan wilayah yang bertetangga untuk berbagi satu garis batas yang sama melalui relasi multipolygon.

  • Setelah dikonversi, saya mengekspor hasilnya dalam format .geojson.

6. Pengetagan Akhir (Final Tagging)

Terakhir, saya menggunakan titik lokasi (place nodes) yang telah diekstrak sebelumnya untuk menyalin dan menempelkan tag yang relevan ke dalam relasi multipolygon baru di editor OSM.

Location: RW 02, Gambir, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa, 10110, Indonesia

I create POIs covering permanent buildings by providing addresses, coordinates, categories, photos, and general information in the latest or most updated POIs, based on real-world data from surveys on foot and by motorcycle. Weather conditions play a significant role in POI creation. Heavy rain makes it difficult to create POIs because photos are unclear, and conversely, very hot days make it impossible to take objective photos. I create POI data for OpenStreet Maps. I hope it’s useful for everyone here. I’d be thrilled if I received support from all my friends. You can see the POIs on my OpenStreetMaps profile. Thank you.

Location: Kampungbenteng, Benteng, Ciampea, Bogor, Jawa Barat, Jawa, 16620, Indonesia