Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pada peringatan ini pula, banyak hal yang perlu direfleksikan terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Salah satunya, apakah fasilitas umum di perkotaan sudah ramah manusia, khususnya perempuan?
Sejak Maret 2026, saya mengikuti kampanye Jalanin Aja Dulu (JAD) yang diselenggarakan oleh lakunakota di Cekungan Bandung. Pada kampanye tersebut, partisipan didorong untuk berjalan kaki sejauh 2,5 km setiap harinya untuk melatih budaya mobilitas dengan berjalan kaki. Saya memanfaatkan momen ini untuk memetakan dan menilai kondisi infrastruktur pejalan kaki yang saya lalui ke OpenStreetMap (OSM).
Metode
Pemetaan saya lakukan sambil berjalan kaki dengan pace antara 9’00” (berarti 9 menit per kilometer) hingga 20’00”, rentang pace yang ditetapkan dalam kampanye JAD. Saya menggunakan aplikasi StreetComplete untuk mendata banyak objek, seperti keberadaan trotoar, penerangan, menambahkan fasilitas umum, dan menambahkan catatan untuk hal-hal yang kompleks. Setelah itu, saya berusaha merapikan pemetaan yang saya lakukan sebelumnya menggunakan desktop iD Editor.
Saya biasanya berjalan kaki di sekitar Jalan Dago, Kota Bandung. Terkadang saya juga berjalan kaki di tempat lain yang familiar, seperti Kota Baru Parahyangan dan Jalan Buah Batu. Tak jarang pula saya memutuskan untuk berjalan kaki di tempat-tempat yang belum pernah saya lalui, seperti Baros di Cimahi atau gang-gang sempit di tengah Kota Bandung untuk mendapatkan sensasi tersendiri. Selain itu, sebagian sesi berjalan kaki saya lakukan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, menambah relevansi data yang saya dapat dengan ruang aman perempuan di jalan.

