OpenStreetMap logo OpenStreetMap

Reza Isnawati's Diary

Recent diary entries

Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.

‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’

Saya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.

Beberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.

Rasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

See full entry

Location: Isola, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Sudah setahun saya berkontribusi dalam UPIYouthMapper. Saya juga ikut merayakan ulang tahun OpenStreetMap ke 20 di UPI dan ulang tahun OpenStreetMap ke 21 bersama POI, KAART, TOMTOM dan teman-teman UPIYouthMapper chapter ke 3.

Jika dibandingkan dengan kehidupan akademik atau himpunan mahasiswa, YouthMappers dan OpenStreetMap berbeda 180 derajat. Ketika saya dituntut untuk melaksanakan tugas saya di akademik atau hima, saya dituntun untuk berkontribusi pada YouthMappers dan OpenStreetMap.

Tidak ada paksaan, tidak ada sanksi. Saya bisa saja pergi dan tidak memberikan konrtibusi. Tapi tuntunan itu membuat saya lebih nyaman.

Saya bisa melakukannya sesuka hati saya, sekosong waktu saya. Namun efeknya luar biasa.

Sebagai mahasiswa yang sangat dengan dunia geospasial, OpenStreetMap menjadi salah satu sumber data untuk penelitian. Dan saya dapat berkontribusi kapan saja, lewat apa saja.

Jika sempat, saya dapat membuka laptop saya dan mengunjungi maproulette kemudian mengikuti challenge yang diberikan. Saya kira hal ini tidak bisa lebih mudah lagi.

Tapi pada perayaan ulang tahun ke 21 OpenStreetMap, saya mengenal banyak aplikasi. dan menurut saya yang paling nyaman digunakan adalah StreetComplete.

Rasanya hidup dalam dunia game dan memiliki sidequest yang sudah dibuat. Sehingga perjalanan kita pun memiliki kontribusi ke OpenStreetMap dan tidak perlu repot-repot untuk membuka laptop.

Saya sangat bersyukur bergabung dengan UPIYouthMapper, dari sini saya mengenal banyak orang-orang luarbiasa dan menjadi lebih dekat dengan dunia open data.

Karena kini informasi sekecil apapun dapat kita sumbangkan lewat ujung jari. lewat StreetComplete