Perempuan dan Rasa Aman di Kota: Membaca Ruang Publik Melalui OpenStreetMap
Posted by Reza Isnawati on 22 May 2026 in Indonesian (Bahasa Indonesia).Pulang malam bukanlah pengalaman baru bagi saya. Kegiatan himpunan dan praktikum menuntut waktu yang tidak sedikit, tak jarang saya pulang ketika bulan sedang dalam puncaknya. Sebetulnya saya sendiri biasa saja, puji syukur tidak pernah mengalami hal-hal aneh saat pulang larut. Tapi kedua orang tua saya selalu meminta kabar jika mereka tahu saya belum dikos setelah maghrib.
‘Masih dikampus?’ atau ‘Kapan pulang?’ atau ‘pulangnya jangan malem-malem.’
Saya iyakan saja dan langsung mengabari ketika sudah sampai kos. Rasa kesal kadang ada, sudah capek fisik dan kadang capek emosi masih saja dirusuhi seperti itu. Tapi saya juga tahu, kalau mereka takut untuk saya. Anak tunggal, perempuan lagi.
Beberapa perempuan mengalami pengalaman seolah mimpi buruk yang hidup, apalagi ketika malam. Gelap, sepi, sempit. Disitu kejahatan berkeliaran. Beberapa ditayangkan lewat berita, beberapa hanya terekam diingatan korban. Rasanya ironis keberuntungan yang saya alami sejauh ini sekedar tidak pernah diapa-apakan, padahal seharusnya hal itu menjadi standar.
Rasa takut itu aneh. Kadang tidak terlihat, tapi mengatur hampir semua keputusan kecil yang diambil perempuan saat berada di ruang publik. Memilih jalan yang lebih ramai walaupun memutar lebih jauh. Menggenggam kunci di tangan saat berjalan sendirian. Menghindari memakai earphone terlalu keras ketika pulang malam. Bahkan sekadar berpura-pura menelepon teman agar terlihat tidak sendirian.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh sebagian orang. Tetapi bagi banyak perempuan, kewaspadaan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.