OpenStreetMap logo OpenStreetMap

NaufalFarras's Diary

Recent diary entries

Jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Beberapa perempuan telah berdiri di sebuah warung gelap di simpang Jalan Haur Pancuh, Dipatiukur. Mereka menantikan bus Metro Jabar Trans Koridor 4 menuju arah Leuwipanjang untuk berangkat bekerja. Pada waktu yang hampir bersamaan, belasan mahasiswa, sebagian besar perempuan, menunggu bus Metro Jabar Trans Koridor 5 di Perhentian SPBU Moh. Toha untuk berangkat kuliah di Jatinangor. Meskipun menjadi perhentian bus favorit bagi penumpang Metro Jabar Trans, tempat tersebut hanya beralaskan tanah, tanpa penerangan, dan tanpa kamera pengawas.

Kondisi seperti ini sudah lama terjadi pada prasarana transportasi umum di Kota Bandung. Tindakan kriminal dan pelecehan seksual terus membayangi calon penumpang transportasi umum yang sedang menunggu akibat minimnya kualitas prasarana. Bukan hanya prasarana untuk Metro Jabar Trans, melainkan semua moda transportasi darat di Kota Bandung (Trans Metro Bandung, Damri, angkot, bus AKAP, dan bus AKDP).

Saya telah aktif memetakan fasilitas pemberhentian bus di Kota Bandung sejak dua tahun terakhir. Bersama dengan organisasi yang saya ikuti, Transport for Bandung, kami aktif memperbaharui data titik-titik perhentian di Kota Bandung untuk edukasi ke masyarakat dan advokasi ke pemangku kepentingan. Diary ini merupakan catatan yang ingin saya sampaikan dalam proyek kecil-kecilan ini.

Keberadaan bangunan halte

Kendati istilah “halte” dapat merujuk pada tempat penumpang menunggu dan menaiki transportasi umum, tidak peduli bentuk dan kelengkapan fasilitasnya, saya lebih nyaman menyebut istilah tersebut untuk tempat yang memiliki bangunan/shelter. Bukan tanpa alasan, operator dan regulator telah menggunakan istilah “halte” untuk tempat-tempat tanpa fasilitas yang memadai, hanya supaya kewajiban mereka terpenuhi.

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pada peringatan ini pula, banyak hal yang perlu direfleksikan terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Salah satunya, apakah fasilitas umum di perkotaan sudah ramah manusia, khususnya perempuan?

Sejak Maret 2026, saya mengikuti kampanye Jalanin Aja Dulu (JAD) yang diselenggarakan oleh lakunakota di Cekungan Bandung. Pada kampanye tersebut, partisipan didorong untuk berjalan kaki sejauh 2,5 km setiap harinya untuk melatih budaya mobilitas dengan berjalan kaki. Saya memanfaatkan momen ini untuk memetakan dan menilai kondisi infrastruktur pejalan kaki yang saya lalui ke OpenStreetMap (OSM).

Metode

Pemetaan saya lakukan sambil berjalan kaki dengan pace antara 9’00” (berarti 9 menit per kilometer) hingga 20’00”, rentang pace yang ditetapkan dalam kampanye JAD. Saya menggunakan aplikasi StreetComplete untuk mendata banyak objek, seperti keberadaan trotoar, penerangan, menambahkan fasilitas umum, dan menambahkan catatan untuk hal-hal yang kompleks. Setelah itu, saya berusaha merapikan pemetaan yang saya lakukan sebelumnya menggunakan desktop iD Editor.

Saya biasanya berjalan kaki di sekitar Jalan Dago, Kota Bandung. Terkadang saya juga berjalan kaki di tempat lain yang familiar, seperti Kota Baru Parahyangan dan Jalan Buah Batu. Tak jarang pula saya memutuskan untuk berjalan kaki di tempat-tempat yang belum pernah saya lalui, seperti Baros di Cimahi atau gang-gang sempit di tengah Kota Bandung untuk mendapatkan sensasi tersendiri. Selain itu, sebagian sesi berjalan kaki saya lakukan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, menambah relevansi data yang saya dapat dengan ruang aman perempuan di jalan.

Keberadaan trotoar

See full entry

Location: Lebak Gede, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat, Jawa, Indonesia

Transjakarta, jaringan rute Bus Raya Terpadu (BRT) terpanjang di dunia ini menjadi tulang punggung transportasi umum di dalam Kota Jakarta. Dengan ratusan rute dan ribuan kendaraannya, Transjakarta menjadi bagian penting dalam identitas Kota Jakarta. Namun sayangnya, data rute dan infrastruktur pendukung Transjakarta kurang diminati untuk dipetakan. Hal ini mendorong saya untuk memetakan Transjakarta, setidaknya jaringan koridor utamanya terlebih dahulu.

Mengenal sistem Transjakarta

Transjakarta merupakan sistem jaringan bus kota di Jakarta. Ditinjau dari rutenya, rute Transjakarta terbagi menjadi dua, yakni rute BRT dan non-BRT. Rute BRT merupakan rute yang berjalan sepenuhnya di jalur khusus dan hanya berhenti di halte BRT. Sementara itu, rute non-BRT merupakan rute bus kota yang melayani halte di pinggir jalan dan biasanya tidak melewati jalur khusus. Sebagian kalangan membagi lagi rute non-BRT menjadi rute non-BRT yang juga melayani halte BRT dan rute yang sama sekali tidak melayani halte BRT (sepenuhnya melayani halte biasa di pinggir jalan).

Jalur khusus yang dimaksud pada kenyataannya tidak benar-benar “khusus”. Sebagian jalur khusus memang memiliki pembatas atau separator untuk memisahkan jalur untuk bus dan kendaraan lain. Namun, sebagian lainnya hanya berupa jalan yang diberi marka, sehingga pada kenyataannya juga dipakai oleh kendaraan lain. Sebagian lainnya bahkan tidak memiliki penanda apapun, sehingga bus “BRT” berjalan di jalan yang tidak memiliki perlakuan khusus apapun terhadap bus Transjakarta.

See full entry

Location: RW 04, Gambir, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa, 10110, Indonesia