Dari Google Maps sampai OpenStreetMap: Ketika Peta Tidak Hanya Soal Lokasi
Posted by Icha Aisya on 23 May 2026 in Indonesian (Bahasa Indonesia).Saya punya kebiasaan yang mungkin juga dilakukan banyak perempuan lain: kalau pulang malam, saya lebih pilih jalan yang terang walaupun harus muter lebih jauh.
Dulu saya nggak pernah benar-benar memikirkan alasan di balik itu. Rasanya cuma seperti kebiasaan biasa. Sampai suatu malam, habis kerja kelompok di kampus, saya sadar kalau hampir semua teman perempuan saya melakukan hal yang sama.
“Lewat sini aja, lebih ramai.” “Jangan lewat belakang, gelap.”
Kalimat-kalimat kayak gitu sering banget terdengar sederhana. Tapi sebenarnya, itu menunjukkan kalau perempuan punya banyak pertimbangan saat berada di ruang publik. Dan anehnya, hal-hal seperti itu jarang terlihat di peta. Padahal setiap hari kita selalu bergantung pada peta. Mau cari tempat makan, cari jalan tercepat, sampai nyari lokasi tugas lapangan, pasti buka maps. Saya juga begitu. Buat saya dulu, peta cuma sekadar alat penunjuk arah. Nggak lebih. Sampai akhirnya saya kenal OpenStreetMap. Awalnya saya kira OpenStreetMap itu aplikasi yang ribet dan cuma dipakai orang-orang tertentu yang ngerti teknologi atau geospasial. Tapi ternyata setelah saya cari tahu, konsepnya sederhana sekaligus menarik. OpenStreetMap adalah peta digital terbuka yang bisa dilengkapi langsung oleh masyarakat.
Di situlah saya mulai sadar kalau ternyata peta bukan cuma soal lokasi. Peta juga bisa menggambarkan bagaimana orang merasakan suatu tempat. Saya jadi mulai memperhatikan hal-hal kecil di sekitar yang sebelumnya sering saya anggap biasa aja. Misalnya lampu jalan yang minim, halte yang terlalu sepi, trotoar yang rusak, atau jalan kecil yang sebenarnya bikin nggak nyaman dilewati malam hari. Buat sebagian orang mungkin itu hal biasa. Tapi buat perempuan, kadang hal-hal kecil seperti itu bisa menentukan rasa aman.