LOMBA DIARY INTERNASIONAL WOMEN'S DAY
Posted by Akmal Tsabit on 23 May 2026 in Indonesian (Bahasa Indonesia).Peta, Ruang Publik, dan Kepedulian terhadap Rasa Aman Perempuan
Saya sudah lama tidak kembali ke Longkali. Tapi anehnya, tempat itu masih sering muncul dalam pikiran saya, terutama ketika sedang melihat peta atau kebetulan melewati jalan yang lampunya mati.
Longkali itu kecil. Tidak banyak yang tahu namanya kalau tidak punya urusan di sana. Kehidupannya pelan, warganya saling kenal, dan malamnya benar-benar malam. Bukan seperti malam di Samarinda yang masih penuh cahaya dan suara kendaraan. Di sana, kalau lampu jalan tidak ada, gelapnya terasa betul.
Nah, dari situlah semuanya bermula.
Saya ingat pernah melewati salah satu jalan di Longkali waktu sudah lumayan malam. Gelap, sepi, dan yang ada di pikiran saya waktu itu cuma satu, “ah, lampunya mati lagi.” Selesai. Saya terus jalan. Tapi entah kenapa, beberapa waktu kemudian pikiran itu kembali lagi, dan kali ini disertai pertanyaan yang berbeda. Kalau saya perempuan, apakah saya akan merasa hal yang sama?
Apakah saya akan setenang itu?
Kemungkinan besar tidak.
Dan itu membuat saya diam cukup lama.
Soal rasa aman yang lebih dari sekadar fisik, saya akui itu hampir tidak pernah saya pikirkan. Paling jauh saya hanya khawatir jalanannya rusak atau ada lubang yang tidak kelihatan. Tapi perempuan yang melewati jalan yang persis sama, di jam yang sama, bisa punya pengalaman yang benar-benar berbeda. Dan itu bukan soal mereka terlalu khawatir atau tidak berani.